Koalisi
partai Islam akhir-akhir ini hangat diperbincangkan dalam konstelasi politik
Indonesia. Berbagai macam nama koalisi didengungkan dari koalisi poros tengah (seperti
masa silam) sampai koalisi Indonesia Raya (ide Amien Rais). Spekulasi-spekulasi
awal bermunculan tentang eksistensi koalisi partai Islam ke depan. Apakah koalisi
ini akan menjadi koalisi kuat sebagaimana yang terjadi pasca reformasi dapat
mengegolkan mantan presiden Gus Dur dalam koalisi poros tengah, atau sebaliknya
koalisi partai Islam akan rapuh. Bahkan, koalisi ini tidak dapat dibentuk atau
hanya sekedar wacana.
Pasca
pemilu Legislatif 9 April 2014 koalisi partai Islam bermula inisiatif PKS yang
memungkinkan untuk membentuk koalisi partai Islam. Hal ini, ditanggapi serius
oleh Amin Rais inisiator koalisi poros tengah pada masa transisi reformasi silam
ketika mengusung Gus Dur jadi Presiden
RI.
Opini
koalisi partai Islam ini berujung pada pertemuan pimpinan partai berbasis Islam
yaitu PKB, PAN, PKS, dan PPP di Cikini. Berbagai macam persepsi tentang motif
pertemuan tersebut.
Entah
apa yang diperbincangkan di sana, namun menurut Amien Rais pertemuan tersebut
membicarakan tentang langkah-langkah partai Islam dalam agenda Pilpres sehingga
ke depannya ada kesepakatan-kesepakatan dengan melalui beberapa pertimbangan
untuk membangun bangsa yang lebih baik.
Apapun
alasannya opini koalisi poros tengah menurut hemat penulis kurang tepat dalam
konteks realitas bangsa Indonesia saat ini. Perbincangan yang mubadzir ini
tidak akan menghasilkan keputusan yang signifikan dalam konteks pembentukan
koalisi. Sekalipun terjadi tidak akan memberikan effect bagi mobilitas partai
Islam dalam memenangkan pilpres.
Sejatinya
partai Islam lebih berpikir tentang peta politik yang sudah konkrit di depan
mata. Dalam konteks Pilpres Katakanlah peta politk sekarang dibagi menjadi dua
yaitu capres Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Dua kubu ini diakui atau tidak
merupakan calon terkuat dalam konstelasi politik pasca pemilu legislatif 9
April.
Sehingga
partai-partai Islam lebih mempetimbangkan ke mana mereka akan berlabuh diantara
dua kubu tersebut. Tentu dengan berbagai pertimbnagan lebih banyak mana mafsadat
dan mudarat dari kedua kubu, baik segi kapabilitas, integritas, serta kapasitas
yang dimiki dua capres tersebut. Inilah yang paling konkrit untuk segara di
ekskusi oleh partai-partai Islam agar tidak membuang waktu dalam menancapkan
strategi selanjutnya dalam pemenangan Capres.

Tidak ada komentar: