Rakyat Indonesia akan dihadapkan pada hari bersejarah dalam
konstelasi demokrasi di Indonesia. Momentum itu, tepatnya pada tanggal 9 April
2014 yakni pemilihan umum (Pemilu) legislatif (DPR RI, DPRD dan DPD). Momen
ini, sangat urgen untuk mendapatkan perhatian masyarakat, sebab dalam waktu
sehari itu, akan menentukan masa depan bangsa Indonesia ke depan. Betapa tidak,
calon yang terpilih inilah secara kontitusional akan mendapatkan mandat politik
untuk menyuarakan aspirasi rakyat, melakukan pengawasan terhadap roda
pemerintahan, menyusun anggaran, melakukan legislasi (membuat peraturan
perundang-undangan).
Pertanyaannya siapa yang akan
menentukan masa depan bangsa tersebut? Jawabannya bukan para caleg, bukan pula
parpol, bahkan presiden pun tak kuasa menentukannya, tetapi yang mentukan
adalah rakyat, ini yang disebut kedaulatan rakyat dalam Negara demokrasi. Masa
depan bangsa ditentukan dari rakyat, oleh rakyat, dan hasilnya pun untuk
rakyat.
Hak pilih merupakan kekuasaan
luar biasa yang diberikan pada rakyat. Untuk itu jangan tukar kekuasaan itu
dengan uang Rp. 50.000 bahkan Rp. 30. 000. Pemilu bukan berbiacara
transaksional, kita mendapatkan uang atau tidak dalam waktu sehari, melainkan
berbicara masa depan kita ke depan, kebijakan untuk kita, kesejahteraan untuk
kita, bahkan untuk anak cucu kita nantinya. Tidak ada harganya uang sekecil Rp.
50.000 itu untuk menggadaikan diri kita dalam 5 tahun bahkan puluhan tahun ke
depan. Mengapa saya katakana puluhan tahun? Sebab meraka calon legislator, akan
membuat undang-undang, mengesahkan undang-undang yang akan mengatur bangsa ini
dalam beberapa tahun.
Apalagi menjadi golongan
putih (golput). Golput bukan menjadi langkah tepat bagi rakyat untuk bersikap
apatis terhadap realitas perilaku buruk anggota DPR, DPRD selama ini di muka
publik (seperti korupsi, asusila dan lain-lain). Tapi tugas dan langkah yang
harus kita lakukan adalah untuk mengganti mereka yang berperilaku buruk pada
orang-orang baik, berintegritas, mempunyai kapabilitas dan berkomitmen untuk
mensejaterahkan bangsa.
Tugas rakyat adalah menjadi
pemilih cerdas. Bagaimana untuk menjadi pemilih cerdas? Tentu dilihat dari
figur atau sosok calon selama berkiprah dalam ranah sosial, politik dan budaya
dengan katagori sebagai berikut; pertama, pemilih hendaknya melihat
integritas calon. Integritas sangat penting untuk mejadi negarawan. Sebab sikap
integritas merupakan sikap yang menunjukkan kemampuan yang memancarkan
kewibawaan dan kejujuran. Hal ini penting untuk menghadirkan para legislator
yang duduk di parlemen menjadi dewan yang betul-betul mempunyai rasa tanggung
jawab terhadap amanah yang diberikan oleh rakyat serta dapat mengakomodir
kepentingan rakyat.
Kedua, pemilih sejatinya
melihat sisi kapabilitas sang calon. Mempunyai integritas yang tinggi tidak cukup
untuk duduk di legislatif, tetapi dibutuhkan kapabilitas. Kapabilitas merupakan
sikap yang tidak hanya sebatas memiliki ketrampilan atau skill tetapi lebih paham secara
mendetail sehingga betul-betul menguasai kemampuannya dari A sampai Z secara
terperinci. Mengapa ini penting? karena legislator disamping melakukan
pengawasan, ia juga membuat regulasi seperti peraturan perundang-undangan.
Dalam hal ini tidak hanya butuh jujur, tetapi butuh ketarampilan dan skill
khusus yang memadai, sehingga produk hukum yang dihasilkan tidak hanya hitam di
atas kertas putih setelah itu masuk dalam tong sampah (tidak bisa
diaplikasikan). Maka kapabilitas sangat penting untuk menjadi salah satu
pertimbangan pemilih dalam menentukan pilihannya.
Ketiga, berkomitmen kuat. Berkomitmen kuat bukan dalam
arti negatif (komitmen sesuai kontrak “dil-dil” politik dagang sapi)
tetapi komitmen yang dimaksud adalah berpegang teguh terhadap tanggung
jawab yang diembannya. Apapun rintangan dan seperti apapun godaaannya, ia tetap
berada di jalan yang lurus, betul-betul mengaplikasikan janji-janjinya selama
kampanye.
Keempat, stelah pemilih mengetahui pribadi figure calon,
maka saatnya mengetahui visi dan misi atau program politik yang ditwarkan.
Tentu memilih program yang sesuai dengan kepentingan kemajuan bangsa atau tidak
mementingkan kelompok belaka.
Pendek kata, figur yang baik
denagn visi-misi yang baik pula, akan menghasilkan dewan yang baik. Tentu
katagori di atas bukan merupakan seutuhnya menjadi pijakan dalam menentukan
pilihan. Tetapi secara fundamental cukup mewakili dari keseluruhan. Jika
katagori di atas betul-betul diperhatikan secara seksama dengan nada optimis
penulis yakin Indonesia akan menjadi bangsa yang sejahtera.
Untuk itu, mari kita gunakan
hak pilih kita dengan cerdas dan hati nurani yang mendalam. Golput bukan alasan
tepat untuk melampiaskan sikap apatis kita terhadap parpol dan para
koruptor yang ada di DPR, DPRD, DPD yang telah berlalu. Tetapi kita saat ini
tengah menatap masa depan, cukup masa lalu menjadi pelajaran berharga. Masa
depan adalah milik kita, bukan milik perampok Negara. Jangan golput! karena
kita akan kecolongan untuk memilih orang yang baik dan kursinya diduduki oleh
koruptor. Jangan menerima uang! karena masa depan kita tidak bisa digadaikan
dengan serendah itu. Martabat bangsa, kini di tangan kita. Berjayalah
Indonesia.

Tidak ada komentar: