Lorong Pena



Terlau mudah kau berjalan lalu bersimpuh
Tak terbiasa mengenang sajak sisa pengembala
Tersimpuh lalu terkapar dalam imajinasi
Lorong-lorong sejarah telah tergores dengan pecahan-pecahan kaca
Tersayat dengan parang
Ternodai dengan bintik bahkan berlumuran darah
Oh yaboy
Memang kadaangkala pena tak setajam pedang
Tapi jihad ini telah makan banyak korban
Terhipnotis prosa demi prosa atau sajak demi sajak
Diksi; penyayat kidung ilalang

Bluuurrr,,,, sajak sejarah terekam di gubuk cinta

Kiriman Lain

Tidak ada komentar:

Leave a Reply