Cerpen Dadang Ari Murtono (Republika, 23
Februari 2014)
TIDAK ada alasan
yang mendasari kepulangan terburu-buru Sakti kali ini selain untuk menemui Gus
Malik, orang alim dari Klampis, dan menyampaikan pesan yang dititipkan sesosok makhluk
bersayap pada malam Jumat kemarin, ini juga sesuai ia berwirid sepanjang Kamis.
”Gus, makhluk itu mengaku bernama Jibril. Dan ia mengatakan bahwa Gus
sebenar-benarnya ahli neraka!” Sakti bercerita dengan mimik ketakutan. Tapi,
ketakutan Sakti tak ada seujung kuku kegetiran Gus Malik. Wajah orang alim itu
dengan segera berubah. Melebihi pucat pasi seonggok mayat. Badannya gemetar dan
apa yang kemudian keluar dari mulutnya adalah kalimat samar yang
terbata-bata.
Orang-orang mengenal Sakti sebagai santri yang tak pernah
berdusta. Segala tindak-tanduk dan ucapannya adalah kebenaran. Bertahun-tahun
Sakti nyantri di sebuah pesantren di daerah
Jombang, Jawa Timur. Sekali pun jarak antara Klampis yang berada dalam wilayah
Surabaya dengan Jombang hanya sekitar 100 kilometer, Sakti hanya pulang setahun
sekali ketika Idul Fitri. ”Aku belajar sungguh-sungguh di sana dan tak ingin
ada waktu yang terbuang untuk sesuatu yang kurang penting,“ katanya bila ada
yang bertanya kenapa ia pulang sejarang itu.
”Dan, orang tuaku bahagia dengan keputusanku. Mereka ingin aku
pintar menguasai ilmu agama dan kelak bisa jadi orang alim, seperti Gus Malik,“
lanjutnya. Kali ini adalah untuk pertama kalinya Sakti pulang tidak pada hari
raya Idul Fitri. Dan kali ini pula, untuk pertama kalinya ia ingin menjadi
orang alim yang tidak seperti Gus Malik.
Kabar yang dibawa Sakti dengan cepat menyebar dan membikin gempar
seantero Klampis. Publik semakin bertanya-tanya, bagaimana mungkin orang sealim
Gus malik bisa menjadi ahli neraka. Padahal, sosok paruh baya itu sudah dua
kali naik haji, tiga kali umrah, dan tak pernah melewatkan sebagai imam shalat
lima waktu di masjid serta kerap khutbah Jumat, bahkan tampak bersih dari
maksiat. Rumor itu pun ramai terdengar di warung kopi, sekolah, masjid, dan
berbagai tempat.
Sebagian orang pun bergumam, ”Bila Gus Malik saja masuk neraka,
bagaimana kita yang membaca Alquran saja masih patah-patah?“ ”Jangan-jangan
Sakti berbohong,“ kata sekelompok warga. Dugaan buruk mengenai Sakti mulai
terbentuk. ”Tapi kita tahu, sejak kecil Sakti tidak pernah mengetahui ada
kebohongan darinya,“ beberapa orang yang membela Sakti mulai membikin kubu.
Dan, pendukung Sakti mulai mengembangkan prasangka, ”Jangan-jangan Gus Malik
menyembunyikan sesuatu yang tidak baik.“
Sesungguhnya, Gus Malik selama ini tidak pernah menyembunyikan
sesuatu yang tidak baik seperti dugaan kubu Sakti. Dan, Sakti tidak berbohong
seperti prasangka pendukung Gus Malik. Sesosok makhluk bersayap yang sekujur
tubuhnya bercahaya memang mendatangi Sakti malam itu. awalnya, Sakti mengira ia
tengah bermimpi. Tapi faktanya, ia masih dalam kondisi terjaga dan merasakan
cubitan di tangannya.
Makhluk itu benar-benar nyata dan meminta Sakti memperingatkan Gus
Malik. ”Sebanyak dan sekhusyuk apa pun ia beribadah, pada akhirnya ia tetap
akan menghuni neraka,“ kata makhluk yang mengaku jibril tersebut. Sakti,
setelah berhasil menenangkan keterkejutannya bertanya, ”Bagaimana bisa?“
Alih-alih menjawab pertanyaan Sakti, makhluk itu malah mengepakkan sayap, dan
perlahan, tubuh yang mulai terangkat itu kian samar, menembus atap rumah, lalu
sama sekali lenyap dari pandangan Sakti. Sakti menggigil. Suhu ruangan
tiba-tiba merosot tajam. Semalaman ia tidak bisa tidur. Dan, keesokan harinya,
seusai shalat Subuh, ia bergegas mencegat bis jurusan Surabaya menuju kediaman
Gus Malik.
Banyak perubahan pada diri Gus Malik setelah Sakti menyampaikan
kabar itu. Sakti kembali ke pesantren keesokan harinya dan ia tidak mengetahui
perubahan-perubahan pada diri Gus Malik tersebut. Selama di pesantren, entah
kenapa tidak ada yang mengirimkan kabar kepadanya perihal Gus Malik. Dan, baru
pada Idul Fitri tahun itu, ia kembali pulang dan mendapati bukan Gus Malik yang
menjadi khatib sekaligus imam shalat Id seperti tahun-tahun sebelumnya.
Dari orang tuanya, Sakti mendapat cerita bahwa Gus Malik sudah
tidak pernah lagi pergi ke masjid, tidak pernah mengaji, tidak pernah ikut sima’an atau tadarus Alquran, dan pada
Ramadhan tahun itu itu, tidak sehari pun berpuasa. ”Percuma, toh aku akan tetap masuk neraka,“
jawab Gus Malik bila ada yang bertanya alasan perubahannya. Dan, yang lebih
mengejutkan Sakti adalah Gus Malik telah menjadi pemabuk, ahli judi, dan kerap
berkunjung ke lokalisasi Doli. Istri dan anak-anak Gus Malik yang malu dengan
perubahan Gus Malik pulang ke rumah mertua Gus Malik di daerah Mojokerto.
”Banyak orang yang menyalahkanmu atas perubahan sikap Gus Malik,“
ujar orang tua Sakti. ”Tapi, aku mengatakan hal yang sebenarnya. Dan, karena
aku menyayangi Gus Malik maka aku menyampikan kabar itu agar beliau bisa
menyiapkan dirinya,“ ujar Sakti membela diri.
Gus Malik meninggal tiga tahun setelahnya ketika tengah berkencan
dengan seorang pelacur di Doli. ”Over dosis obat kuat,“ terang polisi yang
melakukan penyelidikan. Dan, sepuluh bulan kemudian, Sakti terkena penyakit
perut yang parah. Ia dilarikan ke rumah sakit oleh kawan-kawannya sesama santri
di pondok pesantren. Tapi upaya penyelamatan itu terlambat. ”Sakitnya sudah
terlampau parah. Kami tak bisa berbuat apa-apa,“ jelas dokter yang menangani
Sakti. Hari itu pula orang tua Sakti bergegas ke Jombang, tak lama usai
mendapat kabar dari kiai di pesantren Sakti. Sepasang orang tua itu menangis
mendapat Sakti yang sudah teramat kurus tubuhnya. Keduanya membacakan
surah Yaasin di telinga Sakti lantas berdoa, ”Gusti, bila anak kami
masih Kau kehendaki hidup maka cepatkanlah kesembuhannya, namun bila tidak,
maka lekaskanlah mau menjemputnya agar ia tak tersiksa.“
Orang tua Sakti tidak tahu dan tidak bisa melihat bahwa ketika
mereka tengah membaca surah ke-36 Alquran itu dan berdoa, sesosok makhluk
bersayap dengan tubuh bercahaya mendatangi Sakti. Sakti ingat, makhluk itulah
yang dulu menemuinya dan mengaku bernama Jibril. Dan kini, makhluk itu berkata,
”Bersujudlah padaku sekali saja dan aku akan menyembuhkan sakitmu,
menyelamatkanmu dari maut.“ Makhluk itu menyeringai. Dan kali ini, Sakti
melihat sepasang taring mencuat. Dan alangkah merahnya mata makhluk itu. []
Dadang Ari
Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto. Sebagian tulisannya pernah terbit di
beberapa surat kabar. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013). Saat ini bekerja penuh waktu
sebagai penulis dan terlibat dalam Kelompok Suka Jalan.
sumber: lakonhidup
.jpg)
Tidak ada komentar: