Epistemolgi Abid Al-Jabiry dalam Pembaharuan Metodologi Hukum Islam




A.    Pendahuluan
Tradisi pemikiran Islam selalu mewarnai kancah khazanah intelektual dunia. Termasuk dengan tokoh-tokohnya yang selalu memunculkan epistemologi dan teori yang berbeda. Hal ini tentu memberikan angin segar bagi kalangan umat Islam itu sendiri karena tokoh-tokohnya bisa memberikan yang terbaik dalam hal pemikirannya termasuk al Jabiry.
Al Jabiri merupakan tokoh yang mempunyai kapasitas dan kapabilitas yang cukup tinggi sehingga dia dikenal dengan teori epistemologinya yang mempunyai tiga rangkai yaitu bayani, irfani dan burhani. Untuk mengetahui lebih jelas maka secara singkat akan dijabarkan sebagai berikut.

B.     Profil Singkat Al Jabiry
Muhammad Abid Al Jabiry dipanggil Al Jabiry lahir di Maroko di kota Fejjij (Fekik), tepat pada tahun 1936. Dia memperoleh gelar doktornya di Universitas Muhammad V Rabat, Maroko.  Dia diangkat menjadi dosen sejak tahun 1976 sebagai dosen filsafat dan pemikiran Islam dan fakultas sastra. Adapun karyanya yang berupa buku antara lain Fikr Ibnu Khaldun, As Shabiyyah, wa Dlaulah (1971) karya itu hasil dari desertasi doktornya, Adhwa’  ‘ala Musykil al Ta’lim (1973), Madhkal Ila  Falsafah al ‘Ulum, min al Ru’yah Taqaddumiyah li Ba’dh Musykilatina al Fikriyyah al Tarbawiyyah (1977) Nahnu wa al Turats: Qira’ah Mu’asyirah fi Turatsina al Falsafi (1980), Takwin al Aql al Araby (1882), Bunyan al Aql al Araby; Dirasah Tahliliyah li Nuzhum al Ma’rifah fi  al Tsaqafah al Arabiyah (1986), al Aql al Siyasi al Arabi; Muhammadiyah wa Tajalliyatuh (1990), al Khitab al Arabi al Mu’ashir; Dirasah Tahliliyah Naqdiyah (1982). Selain dalam berbentuk buku ada juga yang berbentuk makalah seminar, di sebuah harian, artikel yang tersebar.[1]
Ketika kuliah di Rabat, dia memulai mengenal taradisi Perancis baik berupa kelimuan dan lain sebagainya termasuk pemikiran Marxisme, karena pada saat itu pemikiran Marxisme sangat berkembang dan menjadi trend pembahasan. Bahkan dia digadang termasuk pengagum Marxisme sehingga karya-karya Karl Marx dilahap  habis.
Al jabiry adalah seorang pemikir Islam Arab kontemporer dan namanya sejajar dengan tokoh lain seperti Muhammad Arkoen, Hassan Hanafi, Nasr Abu Zayd, Bassam Tibi, Muhammad Imarah, Fatima Mernisasi, Abdullah Laroui, dan lain sebagainya.
C.    Pemikiran Epistimologi Abid Al Jabiry
Epistemology Al Jabiry dalam pemikirannya pada dasarnya menjabarkan bahwa ada tiga bentuk epistemology yang dapat digunakan untuk menemukan ilmu pengetahuan yakni sebagai berikut:
1.      Bayani
Epistemolgi bayani  dalam tapak tilas sejarah merupakan epistemologi paling awal dalam pemikiran Arab. dalam sistem bayani al Jabiry menyimpulkan bahwa sistem ini dibangun oleh dua prinsip dasar yakni diskontinuitas atau keterpisahan (al infishal) dan prinsip kontigensi atau kemungkinan (at tajwiz). Prinsip tersebut termanifestasi dalam substansi individu (tubuh, tindakan, sensasi dan apapun yang terjadi di dalamnya) didasarkan atas hubungan dan asosiasi yang kebetulan saja tetapi tidak mempengaruhi dan berinteraksi.
Pendekatan bayani merupakan studi filosofis terhadap sistem bangunan pengetahuan yang menempatkan teks (wahyu) sebagai suatu kebenaran mutlak. Adapun akal hanya menduduki kedudukan skunder, yang bertugas menjelaskan dan membela teks yang ada. Dengan kata lain bayani hanya bekerja pada tataran teks (nizam al kitab) melebihi dataran akal (nizam al aql). Oleh karena itu kekuatan pendekatan ini yakni (sharaf) dan sastra (balaghah; bayan, mani’, dan badi’).[2]
2.      Irfani
Epistemologi irfani (gnostik; iluminasi) secara istilah menurut al Asfahani diartikan memahami sesuatu dengan pemikiran dan pengkajian yang mendalam atas apa yang ada dibalik sesuatu[3]. Pendekatan irfani ini merupakan penelitian perenungan yang mendalam disertai dengan penajaman dan ketajaman hati nurani. Batin menduduki posisi tertinggi dalam hirarki pengetahuan irfani.
Epistemolgi ini terdapat untuk pengalaman dan penghayatan keagamaan yang mendalam sebagai perangkat memahami dan menjelaskan agama. Dalam pendekatan irfani terdapat unsur humanitas (rasa kemanusiaan), tetapi  humanitas ilahiyah, yakni rasa kemanausiaan yang timbul setelah banyak mujahadah dan munajad kepada Allah SWT.  Melalui bayani diharapkan menangkap makna hakikat atau makna terdalam di balik teks dan konteks.
3.      Burhani
Al jabiry menyamakan sistem ini dengan rasionalisme[4]. Pendekatan burhani merupakan pendekatan yang mendasarkan diri pada kekuatan rasio yang dilakukan melalui dalil-dalil logika. Pendektan ini menjadikan realitas teks maupun konteks sebagai sumber kajian. Dalam pendekatan burhani tercakup metode ta’lili yang berusaha memahami realitas teks berdasarkan realitas teks, metode istislahi yang berusaha mendekati dan memahami objektif atau konteks berdasarkan filosofi.
Realitas di atas merupakan realitas alam (kauniyah), realitas sejarah (tarikhiyyah),sosial (ijtimaiyah) maupun realitas budaya (tsaqafiyyah). Dalam pendekatan ini, teks dan konteks  berada dalam satu wilayah yang saling berkaitan. Teks tidak berdiri sendiri, ia selalu terkait dengan konteks yang mengelilingi dan mengadakannya sekaligus konteks dari mana teks itu dibaca dan ditafsirkan, sehingga pemahaman bayani akan lebih kuat. Untuk itu pemahaman terhadap keagamaan dan realitas kehidupan sosial keislaman menjadi lebih memadai apabila dipergunakan pendekatan-pendekatan sosiologi, antropologi, kebudayaan dan sejarah.[5]
D.    Penutup

Al Jabiry merupakan tokoh pembaharu Islam yang mampu meletakkan struktur fundamental epistemology dalam Islam secara baik dan kuat. Dengan demikian umat Islam memepunyai salah satu tokoh intelektual yang memberikan kekayaan khazanan keilmuan dan pembaharuan. Struktur landasan fundamental tersebut antara lain adalah bayani, irfani dan burhani.
Epistemology bayani lebih menekankan pada prioritas bahasa, balaghah, bayan, mani’ dan badi’. Epistemology irfani lebih menekankan pada pendekatan irfani ini merupakan penelitian perenungan yang mendalam disertai dengan penajaman dan ketajaman hati nurani sehingga kedudukan batin sangat superior dalam irfani. Berbeda dengan burhani yang lebih menekankan pada rasio atau akal. Sehingga dalam burhani realitas teks dan realitas konteks menjadi sumber kajian berbeda dengan irfani yang menjadi sumber kajian realitas teks itu sendiri.






[1] Muhammad Abid Al Jabiry, Post Tradisionalisme Islam, terj. Ahmad Baso, (Yogyakarta: LKis, 2000), hlm. Xiii-xvi.
[2]Analiansyah, Struktur Epistemologi Pemikiran Islam (Pemikiran Muhammad Abid Al Jabiry) (Surakarta: Jurnal Al A’raf, Vol. III, No. 2 Edisi Jan-Juni, 2007).
[3]Muhammad Abid Al Jabiry, Bunyah al ‘Adl al Araby (Beirut: Al Markaz al Tsaqafah al Araby, 1993), hlm. 251, dikutip Analiansyah, Struktur Epistemologi Pemikiran Islam (Pemikiran Muhammad Abid Al Jabiry) (Surakarta: Jurnal Al A’raf, Vol. III, No. 2 Edisi Jan-Juni, 2007).
[4]Moh. Sofwan, Jalan Ketiga Pemikiran Islam (Gersik: Universitas Muhammadiyah Gresik-UMG Press , 2006), hlm. 374.
[5]Analiansyah, Struktur Epistemologi Pemikiran Islam (Pemikiran Muhammad Abid Al Jabiry) (Surakarta: Jurnal Al A’raf, Vol. III, No. 2 Edisi Jan-Juni, 2007).

Kiriman Lain

Tidak ada komentar:

Leave a Reply