BILA ada
yang menceritakan padamu senja terindah yang pernah dilihatnya, dengan langit
yang selalu kemerahan, dia pasti belum datang ke tempat kami. Senja terindah
hanya ada di sini. Senja yang kuning keemasan, seolah madu lembut dan bening
yang ditumpahkan ke langit hingga segala yang mengapung di permukaan air
menjadi tampak kuning berkilauan. Senja yang tak hanya bening, tapi begitu
hening. Selembar daun yang jatuh tak akan mengusik keheningannya. Angin sejuk
selalu membiarkan daun-daun kelapa setenang bayang-bayang.
Waname mengatakan pada saya, bahkan Tuhan pun
selalu memilih tempat ini saat ingin menenangkan diri. Sejak kanak-kanak kami
suka duduk berdua menikmati senja. “Keindahan tak pernah abadi,” kata Waname.
“Ketidakabadiannya itulah yang membuatnya begitu berharga. Tataplah senja itu,
Tikami. Rekam baik-baik, dan simpan dalam matamu.” Waname suka sekali berenang.
Suara kecipak airnya terdengar begitu jerning hingga ke kejauhan teluk. Suatu
hari Waname bersampan, dan tak pernah kembali. Padahal seminggu lagi ia akan
melamarku dengan 50 ekor babi.
Di gereja, penduduk Otikara mendoakan arwahnya
sembari berbisik-bisik tentang orang-orang yang menculik Waname. Pastilah
mereka pasukan terlatih, yang menganggap Waname harus dilenyapkan karena selalu
menghasut penduduk. Segalanya memang berubah sejak pabrik tambang berdiri tak
jauh dari teluk. Keindahan memang tak pernah abadi. Bila suatu hari kau datang
ke tempat kami, kau tak akan melihat senja yang kuning berkilauan itu lagi.
Tapi jangan kecewa. Bila beruntung, kau masih
bisa melihat senja kuning berkilauan itu di mata seorang gadis buta yang setiap
senja berdiri di tepi teluk. Namanya Tikami. Ia terus menyimpan senja itu dalam
matanya. Ia satu-satunya yang melihat ketika Waname dihabisi. Pasukan terlatih
itu telah merusak matanya.
Epicentrum,
2 Februari 2014
PENIUP SERULING GAIB
INGATLAH Peniup Seruling Gaib bila suatu
malam kau mendengar suara seruling mengalun penuh kepedihan. Bisa jadi seorang
yang paling kau cintai akan mati. Atau kau akan menderita selamanya karena
kehilangan telinga.
Tak pernah ada yang melihat langsung Peniup
Seruling Gaib itu. Orang-orang hanya menduga sosoknya yang serupa bayang-bayang
api berkobar, yang meninggalkan jerit tangis berkepanjangan begitu suara
seruling itu lenyap di kejauhan. “Tutup telingamu rapat-rapat, pegang daun
telingamu kuat-kuat, bila kau tak ingin tersayat,” ibu-ibu langsung berkata
pada anak-anak mereka setiap si Peniup Seruling Gaib lewat. Siapa pun yang tak
tahan mendengar suara seruling itu akan mati mengenaskan. Bila pun hidup akan
kehilangan telinga.
Ada cerita yang dipercaya: ia dulu seorang
peniup seruling paling hebat di kota ini. Ia berhasil memikat semua perempuan
dengan tiupan serulingnya. Siapa pun yang mendengar alunan serulingnya, akan
jatuh cinta dan terus-menerus disesah kerinduan yang tak tertanggungkan.
Termasuk Putri Raja yang jelita. Sudah pasti Raja murka mengetahui anaknya
jatuh cinta pada seorang peniup seruling yang tak jelas kerjaannya selain
sepanjang hari sepanjang malam berjalan keliling meniup seruling. Ia
perintahkan prajurit menangkapnya.
Algojo punya gagasan brilian: cara terbaik
menyiksa peniup seruling ialah dengan membuat tuli telinganya. “Dia memang akan
masih bisa meniup seruling, tapi tak bisa lagi mendengar suara serulingnya
sendiri. Pastilah peniup seruling akan menderita bila tak bisa mendengar suara
seruling yang ditiupnya.” Algojo pun merusak telinga si Peniup Seruling.
Mengiris dan memotong daun telinganya.
Mungkin Peniup Seruling Gaib itu muncul agar kau
bisa memahami kemalangannya. Mungkin juga ia hanya ingin sekadar meminjam
telinga; dengan memotong telingamu, supaya ia bisa mendengar lagi suara
serulingnya.
Bila kau mendengar suara seruling tengah malam,
peganglah telingamu erat-erat.
Jakarta,
22 Januari 2014
KISAH DUA BOCAH
BOCAH itu ingin sekali menuruni tangga yang
seolah terus menerus melambai padanya. Bocah itu ingin sekali naik tangga yang
bagai menyimpan langit luas di ujungnya. Tapi tak bisa.
“Jangan pernah turun ke tangga itu,” kata
ibunya. “Kau hanya akan menjumpai kegelapan. Tempat hidup makhluk busuk yang
akan menghisap kebahagiaanmu. Kau dengar suara-suara yang merayap di bawah
itu?” Lalu bocah itu kembali mendengar jerit seorang anak yang disiksa
sepanjang hari. “Kau akan dicabik-cabik seperti itu!”
“Jangan pernah berpikir untuk naik tangga itu,”
kata ayahnya. “Di atas sana kau hanya akan merasakan kehampaan. Jiwamu akan
dimangsa makhluk terkutuk yang tak pernah mengenal kegembiraan. Kau dengar
suara yang melayang di loteng itu?” Bocah itu memang selalu mendengar suara
ganjil yang menakutkan berjalan di atas kepalanya. “Iblis-iblis di atas sana
akan mencacah-cacah kakimu.”
Ibu menatap bocah itu, yang menunduk ketakutan.
Sebelum pergi dan menutup pintu kamar, ia pastikan kembali rantai yang mengikat
tubuh anaknya telah terkunci kuat. Sebelum keluar kamar, ayah mengelus kepala
bocah itu, yang diam bersandar memandangi kedua kakinya yang terpasung.
Terdengar langkah kaki menuruni tangga.
Terdengar langkah kaki menaiki tangga. Sebentar tangga itu terlihat terang,
seperti ada cahaya lampu dari pintu kamar yang perlahan terbuka. Kemudian
kembali gelap. Kedua bocah itu mendengar dengus nafas busuk. Suara mengeram
dalam kegelapan. Seperti ada iblis bersenggama.
Yogyakarta,
30 Januari 2014
PERMAINAN ANAK-ANAK
APA permainan paling menyenangkan semasa
kanak-kanakmu? Ada permainan masa kecil yang kami sukai. Bukan gobak sodor,
congklak, bola bekel atau petak umpet. Tapi memotong jari kelingking.
Ini permainan sederhana. Kami berkumpul, dan
setiap anak harus bicara jujur. Bila kami menganggapnya berbohong, maka anak
itu harus membuktikan bahwa ia tidak berbohong dengan memotong jari
kelingkingnya. Dan memang, setiap kali kami memotong jari kami, jari itu tetap
utuh. Hidup tanpa kebohongan memang menyenangkan. Percayalah, kebohongan jauh
lebih menakutkan dari kematian.
Biarkan mereka menganggap
kita hina, terbuang dan hidup sebagai budak kegelapan, tapi jangan pernah
sekali-kali berbohong. Nasihat seperti itu membuat kami bahagia,
meski dikucilkan. Ada tembok mengelilingi tempat tinggal kami, yang tak boleh
kami melewatinya. Kami hanya berani muncul malam hari ketika kegelapan membuat
lembah ini menjadi semakin menakutkan: pohon-pohon tua dan angker, dengan sulur
seperti usus berjuntaian, bayangan nisan dan pekuburan yang terlihat pucat.
Hanya iblis dan orang-orang bermasalah yang nekat ke sini. Mereka
mengendap-endap membuang mayat atau janin, lalu segera bergegas.
Maka kami heran ketika melihat ada gadis kecil
berjalan sendirian. Ia mungkin anak kampung seberang sungai yang tersesat. Atau
mungkin ia mau mencuri buah mangga di pohon dekat gerbang pemakaman. Buahnya
memang dikenal sangat manis. Ia tak kaget ketika kamu memergokinya. Ia bilang
tak hendak mencuri mangga. Kami tak percaya. “Berani potong jari kalau saya
bohong!” katanya.
Kami pun mengajaknya bermain. Kami duduk
melingkar. Ia mengulurkan tangannya, terus meyakinkan kami bahwa ia tak
berbohong. Begitu tenang ia memotong kelingkingnya. Kami menjerit melihat jari
itu berdarah, dan langsung lari ketakutan.
Aku, yang sejak tadi sembunyi di pohon besar,
memperhatikan anak itu. Aku mengenalnya. Ia anak tukang sulap yang tinggal di
desa sebelah. Pastilah ia telah diajari trik kecil itu. Ia memungut jarinya
yang putus.
Pelan-pelan dari belakang kujulurkan tanganku
yang rusak dan hitam, ke lehernya.
VIN+
Jakarta, 31 Januari 2014
INSOMNIA
KANTUK adalah kutukan. Tidur adalah
ancaman. Ia tak pernah lagi merasa tenang setiap matanya hendak terpejam sejak
istri dan dua anaknya mati mengenaskan digorok dan dibacok rampok. Ia yang
sedang di luar kota ditelepon tetangga, dan dalam bus matanya terus terjaga
selama enam belas jam perjalanan pulang. Kepalanya penuh jeritan anaknya.
Bahkan setelah dua hari penguburan masih saja ia mendengar jeritan itu. Ia
terus melihat darah menggenangi lantai rumah. Sepanjang malam ia terus berjaga,
duduk di kursi menatap pintu rumah, karena yakin para perampok itu akan datang
lagi untuk membunuhnya. Pisau belati selalu tak jauh dari jangkauannya.
Kawan dan rekan sekantor menasihatinya untuk
istirahat. Kamu sudah seperti mayat hidup, kata mereka. Tidurlah.
Tapi ia tak mau menyerah, meski tubuh telah
begitu lelah. Tetap tak mau takluk oleh kantuk. Bergelas-gelas kopi. Segala
obat yang bisa membuatnya tetap terjaga. Lampu selalu ia nyalakan. Atau ia
pergi keluyuran menyusuri jalanan agar tak bosan. Belati terselip di pinggang.
Di ujung gang seseorang terlihat berdiri menghadang. Ia bersiap menyerang.
Ternyata itu sebuah tiang. Kota telah penuh bandit. Setiap saat para pembunuh
itu akan menyerangnya. Sebelum bandit-bandit itu lenyap, tidur adalah neraka.
Sebuah bayangan berkelebat. Ia segera mengejarnya. Tak ada siapa-siapa.
Berminggu-minggu tak tidur telah membuatnya
menjadi makhluk kumal dengan mata merah cekung, hingga siapa pun tak merasa
nyaman di dekatnya. Tapi ia sudah mulai terbiasa sendirian. Mengurung diri
dalam kamar bersama kecemasannya. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Dan para
kenalan mulai melupakannya. Sampai tetangga yang mencium bau busuk segera
menelepon polisi.
Ia ditemukan mati meringkuk dalam kelopak
matanya.
Hotel
Haris, 4 Februari 2014
PENARI SENJA
IBUKU seorang penari, ia bercerita. Aku
ingat, saat aku berusia 5 tahun, ibu mulai mengajariku menari, di pendopo
rumah. Aku selalu tak pernah merasa mampu menari sebagus ibu. Tubuhnya mengalir
lembut, begitu halus, seakan bergerak mengikuti angin. Aku selalu merasakan
jiwa ibulah yang menari. Bahkan ketika tubuh ibu hanya berdiri dengan selendang
di tangan, ia seperti tengah menarikan yang tak bisa kulihat: semesta seakan
mengitarinya. Aku seperti mendengar gesekan bintang-bintang nun jauh di
kegelapan.
Tak ada penari sebaik ibu. Setidaknya di
kampungku. Ibu satu-satunya penari yang paling dikagumi. Ia diundang menari di
banyak acara. Bahkan ketika Presiden Sukarno datang ke kota kabupaten, ibu
menari di hadapannya. Sebulan setelah itu ibu ditangkap. Ia sedang mengajariku
menari, bersama puluhan anak lain, ketika empat tentara datang, dan langsung menyeretnya.Ibu
orang yang berbahaya begitu kudengar kemudian setelah aku dewasa. Aku
sama sekali tak mengerti, kenapa seorang penari seperti ibu yang begitu lembut
bisa dianggap membahayakan negara.
Aku tak pernah bertemu ibu lagi. Mungkin ia mati
disiksa di penjara. Tapi aku merasakan ibu dalam jiwa dan tubuhku. Ibu seolah
ada dalam diriku: menuntunku untuk menari. Sering tengah malam aku tiba-tiba
terbangun dan menari begitu saja. Tubuhku menari meski pun aku tak
memaksudkannya menari. Kamu menari sebagus ibumu, kawan-kawan
sering berkomentar. Padahal aku sendiri selalu merasa kalau aku tak pernah bisa
menari sebagus ibu. Jangankan menari sebagus ibu, menari dangdut yang acak-adut
pun rasanya aku tak bagus-bagus amat. Tapi hidup memaksaku terus menari.
Dan ia pun perlahan mulai
menari di depanku. Telanjang.
Begitulah, setiap senja aku memandangi patung di
depan gedung itu. Aku suka sekali menikmati tariannya yang begitu mempesona.
Tentu saja, aku selalu diusir satpam setiap kali berlama-lama berdiri di dekat
patung itu. Orang gila semacamku sudah pasti mengganggu pemandangan. Apalagi
ketika patung itu menari setiap senja. Dan orang-orang kantoran yang
lalu-lalang, berhenti sejenak memandanginya.
Jakarta,
21 Januari 2014
Penulis: Agus Noor; Buku-buku Agus
Noor yang akan terbit adalah Kitab Ranjang (novel) danCerita
buat Para Kekasih (kumpulan cerita pendek).
sumber: Lakon Hidup
.jpg)
Tidak ada komentar: