Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jika Kau


Jika kau menjelma menjadi puisi
Maka rindu menjelma menjadi diksi
Sebab antara puisi dan kerinduan;
Aku dan kau

Tapi apalah, tak mengapa
Jarak yang terpental bergumul tak bermuara
Hingga rayap merayap menjelma dalam lapuk dan kusam.

Surabaya, 25 September 2020.

Kutunggu Kau



berita malam menghembuskan angin segar
sedang debur ombak berdebur-mendebur-hingga bermuara
sudah sekian lama sketsa tentang keabadian dileburkan oleh hakikatnya sendiri
sudah bertahun-tahun bahkan berabad-abad dihancurkan diguncang keabadiannya sendiri
biur, blur, semuanya bercampur hingga babak belur di rumah tua

malam yang kabut, tengah kusebut engkau di peraduan
namun rembulan telang menyumbingkan bibirnya
bintangpun telah menutup matanya hingga lima puluh cente
masih saja ia melingkar berputar tak bermuara
akhirnya ku tunggu kau di istana kepalsuan

Cangkarman, 01 April 2016.



Memoar Tapak



Wajah asing tubuh langsing
Tubuh melekuk tangan meliuk aku mabuk sambil mengangguk
Silau; malu diriku dan berdebar dadaku
Entah apa yang aku rasa
Peristiwa ini akan kusimpan dalam memoar jejak pengembaraan
Akan kucatat di dinding altar rumahku, biar sejarah mendepakkan sayapnya diantara bambu bersibak dua
Yaboi,,,oooohhhh indahnya memoar sejarahku; anganku
Akan tertulis tapak-tapak di atas debu
Tapak; meliuk seperi tubuh indahmu,,,jari rajungan orang Madura bilang
Semoga..semoga sejarah berkata; bertahta




Jangan Pernah Berharap



Sekilas Serpihan Kata

Jangan pernah berharap menuju puncak
Jika perjuangan mendaki di lereng tak pernah kita lakukan

Jangan pernah berharap kebahagiaan
Jika rasa iri dan dengki masih menyelimuti hati

Jangan pernah berharap sebuah keberhasilan
Jika kita tak pernah melakukan perjuangan

Jangan pernah berharap bertambahnya nikmat
Jika diri kita tak pernah bersyukur

Jangan pernah berharap diri kita dihormati
Jika masih sering meremehkan orang-orang disekitar kita

Jangan berharap hati kita tentram
Jika tak memelihara kesabaran

Jangan berharap kita mengambil keputusan yang tepat
Jika masih terbelenggu akan keraguan

Jangan pernah berbicara hasil
Jika kita tak pernah melangkah walaupun hanya satu jengkal

Jangan berharap belas kasihan
Jika kita tak pernah peduli terhadap orang lain

Kebaikan yang kita lakukan sejatinya untuk kita bukan untuk orang lain

Jika kita berbuat baik, kebaikan itu hakikatnya akan kembali pada diri kita

Negeriku Sakit


Negeriku izinkan sang pujangga tanpa nama bercerita
sepenggal kata, kalimat, atau bahkan bait perbait syair; diantara gemuruhnya politik tanpa etik
Negeri ini tengah sakit, keadilan dihargai dengan duit
Kepala manusia dihargai dengan duit , bahkan lebih murah dari harga kepala sapi
Kekuasaan dengan duit
Kebijkana dengan duit
Negeriku kapan kau bangkit?











Sajak Untuk Fitri



Sajak ini aku torehkan dalam kelam malam ini tentang diriku
Dipaersimpangan jalan itu, alfa; kabut mencekam

Hingga menorehklan luka-luka tanpa darah
Tak ada apa
Namun yang ada hanya diam;
Kau antarkan aku pada rambu-rambu lalu lintas yang tak jelas

Tapi kau tahu kan fitri
Dalam kegelisahan yang selalu menggelitik setiap selang waktu
Meronta ronta dalam biur nafasku
Hingga angin malam datang mebawaku kelembah yang aku tak pernah menegenalnya
tak hany itu fitri
cinta yang kau tancapkan di persimpangan jalan dan rerontokan daun itu
menjelma dalam fatamorgana, silau yang aku rasa

Ada apa ini fitri?
Apakah ini pertanda tentang cinta haru biru
Ataukah ini alif dan ba’ menunggu datangnya ya’ hingga wassalam
Ataukah ini akan mengantarkan kita kepusaran bumi

Coba lihatlah aku fitri, lihatlah aku
malam ini aku akan lampiaskan nafsu cinta  yang kian mengiang-ngiang
dalam setiap desahan nafas serta tarian wirid cintaku
                                    hingga akhir ini kau hadir untukku
                                                            terima kasih fitri