Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Jika kau menjelma menjadi puisi
berita malam menghembuskan angin segar
sedang debur ombak berdebur-mendebur-hingga bermuara
sudah sekian lama sketsa tentang keabadian dileburkan oleh hakikatnya sendiri
sudah bertahun-tahun bahkan berabad-abad dihancurkan diguncang keabadiannya sendiri
biur, blur, semuanya bercampur hingga babak belur di rumah tua
malam yang kabut, tengah kusebut engkau di peraduan
namun rembulan telang menyumbingkan bibirnya
bintangpun telah menutup matanya hingga lima puluh cente
masih saja ia melingkar berputar tak bermuara
akhirnya ku tunggu kau di istana kepalsuan
Cangkarman, 01 April 2016.
Jika Kau
Posted by Memoar Pena on Sabtu, 26 September 2020
Maka rindu menjelma menjadi diksi
Sebab antara puisi dan kerinduan;
Aku dan kau
Tapi apalah, tak mengapa
Jarak yang terpental bergumul tak bermuara
Hingga rayap merayap menjelma dalam lapuk dan kusam.
Surabaya, 25 September 2020.
Kutunggu Kau
Posted by Memoar Pena on Sabtu, 02 April 2016
berita malam menghembuskan angin segar
sedang debur ombak berdebur-mendebur-hingga bermuara
sudah sekian lama sketsa tentang keabadian dileburkan oleh hakikatnya sendiri
sudah bertahun-tahun bahkan berabad-abad dihancurkan diguncang keabadiannya sendiri
biur, blur, semuanya bercampur hingga babak belur di rumah tua
malam yang kabut, tengah kusebut engkau di peraduan
namun rembulan telang menyumbingkan bibirnya
bintangpun telah menutup matanya hingga lima puluh cente
masih saja ia melingkar berputar tak bermuara
akhirnya ku tunggu kau di istana kepalsuan
Cangkarman, 01 April 2016.
Memoar Tapak
Posted by Memoar Pena on Selasa, 22 April 2014
Wajah asing tubuh langsing
Tubuh melekuk tangan meliuk aku mabuk sambil mengangguk
Silau; malu diriku dan berdebar dadaku
Entah apa yang aku rasa
Peristiwa ini akan kusimpan dalam memoar jejak pengembaraan
Akan kucatat di dinding altar rumahku, biar sejarah mendepakkan
sayapnya diantara bambu bersibak dua
Yaboi,,,oooohhhh indahnya memoar sejarahku; anganku
Akan tertulis tapak-tapak di atas debu
Tapak; meliuk seperi tubuh indahmu,,,jari rajungan orang Madura
bilang
Semoga..semoga sejarah berkata; bertahta
Jangan Pernah Berharap
Posted by Memoar Pena on Sabtu, 19 April 2014
Sekilas Serpihan Kata
Jangan
pernah berharap menuju puncak
Jika
perjuangan mendaki di lereng tak pernah kita lakukan
Jangan
pernah berharap kebahagiaan
Jika
rasa iri dan dengki masih menyelimuti hati
Jangan
pernah berharap sebuah keberhasilan
Jika
kita tak pernah melakukan perjuangan
Jangan
pernah berharap bertambahnya nikmat
Jika
diri kita tak pernah bersyukur
Jangan
pernah berharap diri kita dihormati
Jika
masih sering meremehkan orang-orang disekitar kita
Jangan
berharap hati kita tentram
Jika
tak memelihara kesabaran
Jangan
berharap kita mengambil keputusan yang tepat
Jika
masih terbelenggu akan keraguan
Jangan
pernah berbicara hasil
Jika
kita tak pernah melangkah walaupun hanya satu jengkal
Jangan
berharap belas kasihan
Jika
kita tak pernah peduli terhadap orang lain
Kebaikan
yang kita lakukan sejatinya untuk kita bukan untuk orang lain
Jika
kita berbuat baik, kebaikan itu hakikatnya akan kembali pada diri kita
Negeriku Sakit
Posted by Memoar Pena on Jumat, 18 April 2014
Negeriku izinkan sang pujangga tanpa nama bercerita
sepenggal kata, kalimat, atau bahkan bait perbait
syair; diantara gemuruhnya politik tanpa etik
Negeri ini tengah sakit, keadilan dihargai dengan
duit
Kepala manusia dihargai dengan duit , bahkan lebih
murah dari harga kepala sapi
Kekuasaan dengan duit
Kebijkana dengan duit
Negeriku kapan kau bangkit?
Sajak Untuk Fitri
Posted by Memoar Pena on Rabu, 16 April 2014
Sajak ini aku torehkan dalam kelam malam ini tentang diriku
Dipaersimpangan jalan itu, alfa; kabut mencekam
Hingga menorehklan luka-luka tanpa darah
Tak ada apa
Namun yang ada hanya diam;
Kau antarkan aku pada rambu-rambu lalu lintas yang tak jelas
Tapi kau tahu kan fitri
Dalam kegelisahan yang selalu menggelitik setiap selang waktu
Meronta ronta dalam biur nafasku
Hingga angin malam datang mebawaku kelembah yang aku tak pernah
menegenalnya
tak hany itu fitri
cinta yang kau tancapkan di persimpangan jalan dan rerontokan daun
itu
menjelma dalam fatamorgana, silau yang aku rasa
Ada apa ini fitri?
Apakah ini pertanda tentang cinta haru biru
Ataukah ini alif dan ba’
menunggu datangnya ya’ hingga wassalam
Ataukah ini akan
mengantarkan kita kepusaran bumi
Coba lihatlah aku fitri, lihatlah aku
malam ini aku akan lampiaskan nafsu cinta yang kian
mengiang-ngiang
dalam setiap desahan nafas serta tarian wirid cintaku
hingga akhir ini kau hadir untukku
terima kasih fitri

.jpg)
.jpg)

.jpg)