Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Enam Cerita (Cerpen Tempo)



BILA ada yang menceritakan padamu senja terindah yang pernah dilihatnya, dengan langit yang selalu kemerahan, dia pasti belum datang ke tempat kami. Senja terindah hanya ada di sini. Senja yang kuning keemasan, seolah madu lembut dan bening yang ditumpahkan ke langit hingga segala yang mengapung di permukaan air menjadi tampak kuning berkilauan. Senja yang tak hanya bening, tapi begitu hening. Selembar daun yang jatuh tak akan mengusik keheningannya. Angin sejuk selalu membiarkan daun-daun kelapa setenang bayang-bayang. 
Waname mengatakan pada saya, bahkan Tuhan pun selalu memilih tempat ini saat ingin menenangkan diri. Sejak kanak-kanak kami suka duduk berdua menikmati senja. “Keindahan tak pernah abadi,” kata Waname. “Ketidakabadiannya itulah yang membuatnya begitu berharga. Tataplah senja itu, Tikami. Rekam baik-baik, dan simpan dalam matamu.” Waname suka sekali berenang. Suara kecipak airnya terdengar begitu jerning hingga ke kejauhan teluk. Suatu hari Waname bersampan, dan tak pernah kembali. Padahal seminggu lagi ia akan melamarku dengan 50 ekor babi.
Di gereja, penduduk Otikara mendoakan arwahnya sembari berbisik-bisik tentang orang-orang yang menculik Waname. Pastilah mereka pasukan terlatih, yang menganggap Waname harus dilenyapkan karena selalu menghasut penduduk. Segalanya memang berubah sejak pabrik tambang berdiri tak jauh dari teluk. Keindahan memang tak pernah abadi. Bila suatu hari kau datang ke tempat kami, kau tak akan melihat senja yang kuning berkilauan itu lagi.
Tapi jangan kecewa. Bila beruntung, kau masih bisa melihat senja kuning berkilauan itu di mata seorang gadis buta yang setiap senja berdiri di tepi teluk. Namanya Tikami. Ia terus menyimpan senja itu dalam matanya. Ia satu-satunya yang melihat ketika Waname dihabisi. Pasukan terlatih itu telah merusak matanya.

Epicentrum, 2 Februari 2014
PENIUP SERULING GAIB
INGATLAH Peniup Seruling Gaib bila suatu malam kau mendengar suara seruling mengalun penuh kepedihan. Bisa jadi seorang yang paling kau cintai akan mati. Atau kau akan menderita selamanya karena kehilangan telinga.
Tak pernah ada yang melihat langsung Peniup Seruling Gaib itu. Orang-orang hanya menduga sosoknya yang serupa bayang-bayang api berkobar, yang meninggalkan jerit tangis berkepanjangan begitu suara seruling itu lenyap di kejauhan. “Tutup telingamu rapat-rapat, pegang daun telingamu kuat-kuat, bila kau tak ingin tersayat,” ibu-ibu langsung berkata pada anak-anak mereka setiap si Peniup Seruling Gaib lewat. Siapa pun yang tak tahan mendengar suara seruling itu akan mati mengenaskan. Bila pun hidup akan kehilangan telinga.
Ada cerita yang dipercaya: ia dulu seorang peniup seruling paling hebat di kota ini. Ia berhasil memikat semua perempuan dengan tiupan serulingnya. Siapa pun yang mendengar alunan serulingnya, akan jatuh cinta dan terus-menerus disesah kerinduan yang tak tertanggungkan. Termasuk Putri Raja yang jelita. Sudah pasti Raja murka mengetahui anaknya jatuh cinta pada seorang peniup seruling yang tak jelas kerjaannya selain sepanjang hari sepanjang malam berjalan keliling meniup seruling. Ia perintahkan prajurit menangkapnya.
Algojo punya gagasan brilian: cara terbaik menyiksa peniup seruling ialah dengan membuat tuli telinganya. “Dia memang akan masih bisa meniup seruling, tapi tak bisa lagi mendengar suara serulingnya sendiri. Pastilah peniup seruling akan menderita bila tak bisa mendengar suara seruling yang ditiupnya.” Algojo pun merusak telinga si Peniup Seruling. Mengiris dan memotong daun telinganya.
Mungkin Peniup Seruling Gaib itu muncul agar kau bisa memahami kemalangannya. Mungkin juga ia hanya ingin sekadar meminjam telinga; dengan memotong telingamu, supaya ia bisa mendengar lagi suara serulingnya.
Bila kau mendengar suara seruling tengah malam, peganglah telingamu erat-erat.

Jakarta, 22 Januari 2014
KISAH DUA BOCAH
BOCAH itu ingin sekali menuruni tangga yang seolah terus menerus melambai padanya. Bocah itu ingin sekali naik tangga yang bagai menyimpan langit luas di ujungnya. Tapi tak bisa.
“Jangan pernah turun ke tangga itu,” kata ibunya. “Kau hanya akan menjumpai kegelapan. Tempat hidup makhluk busuk yang akan menghisap kebahagiaanmu. Kau dengar suara-suara yang merayap di bawah itu?” Lalu bocah itu kembali mendengar jerit seorang anak yang disiksa sepanjang hari. “Kau akan dicabik-cabik seperti itu!”
“Jangan pernah berpikir untuk naik tangga itu,” kata ayahnya. “Di atas sana kau hanya akan merasakan kehampaan. Jiwamu akan dimangsa makhluk terkutuk yang tak pernah mengenal kegembiraan. Kau dengar suara yang melayang di loteng itu?” Bocah itu memang selalu mendengar suara ganjil yang menakutkan berjalan di atas kepalanya. “Iblis-iblis di atas sana akan mencacah-cacah kakimu.”
Ibu menatap bocah itu, yang menunduk ketakutan. Sebelum pergi dan menutup pintu kamar, ia pastikan kembali rantai yang mengikat tubuh anaknya telah terkunci kuat. Sebelum keluar kamar, ayah mengelus kepala bocah itu, yang diam bersandar memandangi kedua kakinya yang terpasung.
Terdengar langkah kaki menuruni tangga. Terdengar langkah kaki menaiki tangga. Sebentar tangga itu terlihat terang, seperti ada cahaya lampu dari pintu kamar yang perlahan terbuka. Kemudian kembali gelap. Kedua bocah itu mendengar dengus nafas busuk. Suara mengeram dalam kegelapan. Seperti ada iblis bersenggama.

Yogyakarta, 30 Januari 2014

PERMAINAN ANAK-ANAK
APA permainan paling menyenangkan semasa kanak-kanakmu? Ada permainan masa kecil yang kami sukai. Bukan gobak sodor, congklak, bola bekel atau petak umpet. Tapi memotong jari kelingking.
Ini permainan sederhana. Kami berkumpul, dan setiap anak harus bicara jujur. Bila kami menganggapnya berbohong, maka anak itu harus membuktikan bahwa ia tidak berbohong dengan memotong jari kelingkingnya. Dan memang, setiap kali kami memotong jari kami, jari itu tetap utuh. Hidup tanpa kebohongan memang menyenangkan. Percayalah, kebohongan jauh lebih menakutkan dari kematian.
Biarkan mereka menganggap kita hina, terbuang dan hidup sebagai budak kegelapan, tapi jangan pernah sekali-kali berbohong. Nasihat seperti itu membuat kami bahagia, meski dikucilkan. Ada tembok mengelilingi tempat tinggal kami, yang tak boleh kami melewatinya. Kami hanya berani muncul malam hari ketika kegelapan membuat lembah ini menjadi semakin menakutkan: pohon-pohon tua dan angker, dengan sulur seperti usus berjuntaian, bayangan nisan dan pekuburan yang terlihat pucat. Hanya iblis dan orang-orang bermasalah yang nekat ke sini. Mereka mengendap-endap membuang mayat atau janin, lalu segera bergegas.
Maka kami heran ketika melihat ada gadis kecil berjalan sendirian. Ia mungkin anak kampung seberang sungai yang tersesat. Atau mungkin ia mau mencuri buah mangga di pohon dekat gerbang pemakaman. Buahnya memang dikenal sangat manis. Ia tak kaget ketika kamu memergokinya. Ia bilang tak hendak mencuri mangga. Kami tak percaya. “Berani potong jari kalau saya bohong!” katanya.
Kami pun mengajaknya bermain. Kami duduk melingkar. Ia mengulurkan tangannya, terus meyakinkan kami bahwa ia tak berbohong. Begitu tenang ia memotong kelingkingnya. Kami menjerit melihat jari itu berdarah, dan langsung lari ketakutan.
Aku, yang sejak tadi sembunyi di pohon besar, memperhatikan anak itu. Aku mengenalnya. Ia anak tukang sulap yang tinggal di desa sebelah. Pastilah ia telah diajari trik kecil itu. Ia memungut jarinya yang putus.
Pelan-pelan dari belakang kujulurkan tanganku yang rusak dan hitam, ke lehernya.

VIN+ Jakarta, 31 Januari 2014
INSOMNIA
KANTUK adalah kutukan. Tidur adalah ancaman. Ia tak pernah lagi merasa tenang setiap matanya hendak terpejam sejak istri dan dua anaknya mati mengenaskan digorok dan dibacok rampok. Ia yang sedang di luar kota ditelepon tetangga, dan dalam bus matanya terus terjaga selama enam belas jam perjalanan pulang. Kepalanya penuh jeritan anaknya. Bahkan setelah dua hari penguburan masih saja ia mendengar jeritan itu. Ia terus melihat darah menggenangi lantai rumah. Sepanjang malam ia terus berjaga, duduk di kursi menatap pintu rumah, karena yakin para perampok itu akan datang lagi untuk membunuhnya. Pisau belati selalu tak jauh dari jangkauannya.
Kawan dan rekan sekantor menasihatinya untuk istirahat. Kamu sudah seperti mayat hidup, kata mereka. Tidurlah.
Tapi ia tak mau menyerah, meski tubuh telah begitu lelah. Tetap tak mau takluk oleh kantuk. Bergelas-gelas kopi. Segala obat yang bisa membuatnya tetap terjaga. Lampu selalu ia nyalakan. Atau ia pergi keluyuran menyusuri jalanan agar tak bosan. Belati terselip di pinggang. Di ujung gang seseorang terlihat berdiri menghadang. Ia bersiap menyerang. Ternyata itu sebuah tiang. Kota telah penuh bandit. Setiap saat para pembunuh itu akan menyerangnya. Sebelum bandit-bandit itu lenyap, tidur adalah neraka. Sebuah bayangan berkelebat. Ia segera mengejarnya. Tak ada siapa-siapa.
Berminggu-minggu tak tidur telah membuatnya menjadi makhluk kumal dengan mata merah cekung, hingga siapa pun tak merasa nyaman di dekatnya. Tapi ia sudah mulai terbiasa sendirian. Mengurung diri dalam kamar bersama kecemasannya. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Dan para kenalan mulai melupakannya. Sampai tetangga yang mencium bau busuk segera menelepon polisi.
Ia ditemukan mati meringkuk dalam kelopak matanya.

Hotel Haris, 4 Februari 2014
PENARI SENJA
IBUKU seorang penari, ia bercerita. Aku ingat, saat aku berusia 5 tahun, ibu mulai mengajariku menari, di pendopo rumah. Aku selalu tak pernah merasa mampu menari sebagus ibu. Tubuhnya mengalir lembut, begitu halus, seakan bergerak mengikuti angin. Aku selalu merasakan jiwa ibulah yang menari. Bahkan ketika tubuh ibu hanya berdiri dengan selendang di tangan, ia seperti tengah menarikan yang tak bisa kulihat: semesta seakan mengitarinya. Aku seperti mendengar gesekan bintang-bintang nun jauh di kegelapan.
Tak ada penari sebaik ibu. Setidaknya di kampungku. Ibu satu-satunya penari yang paling dikagumi. Ia diundang menari di banyak acara. Bahkan ketika Presiden Sukarno datang ke kota kabupaten, ibu menari di hadapannya. Sebulan setelah itu ibu ditangkap. Ia sedang mengajariku menari, bersama puluhan anak lain, ketika empat tentara datang, dan langsung menyeretnya.Ibu orang yang berbahaya begitu kudengar kemudian setelah aku dewasa. Aku sama sekali tak mengerti, kenapa seorang penari seperti ibu yang begitu lembut bisa dianggap membahayakan negara.
Aku tak pernah bertemu ibu lagi. Mungkin ia mati disiksa di penjara. Tapi aku merasakan ibu dalam jiwa dan tubuhku. Ibu seolah ada dalam diriku: menuntunku untuk menari. Sering tengah malam aku tiba-tiba terbangun dan menari begitu saja. Tubuhku menari meski pun aku tak memaksudkannya menari. Kamu menari sebagus ibumu, kawan-kawan sering berkomentar. Padahal aku sendiri selalu merasa kalau aku tak pernah bisa menari sebagus ibu. Jangankan menari sebagus ibu, menari dangdut yang acak-adut pun rasanya aku tak bagus-bagus amat. Tapi hidup memaksaku terus menari.
Dan ia pun perlahan mulai menari di depanku. Telanjang.
Begitulah, setiap senja aku memandangi patung di depan gedung itu. Aku suka sekali menikmati tariannya yang begitu mempesona. Tentu saja, aku selalu diusir satpam setiap kali berlama-lama berdiri di dekat patung itu. Orang gila semacamku sudah pasti mengganggu pemandangan. Apalagi ketika patung itu menari setiap senja. Dan orang-orang kantoran yang lalu-lalang, berhenti sejenak memandanginya.

Jakarta, 21 Januari 2014

Penulis: Agus Noor; Buku-buku Agus Noor yang akan terbit adalah Kitab Ranjang (novel) danCerita buat Para Kekasih (kumpulan cerita pendek).
sumber: Lakon Hidup

Orang Alim dari Klampis (Cerpen Republika))




Cerpen Dadang Ari Murtono (Republika, 23 Februari 2014)
TIDAK ada alasan yang mendasari kepulangan terburu-buru Sakti kali ini selain untuk menemui Gus Malik, orang alim dari Klampis, dan menyampaikan pesan yang dititipkan sesosok makhluk bersayap pada malam Jumat kemarin, ini juga sesuai ia berwirid sepanjang Kamis. ”Gus, makhluk itu mengaku bernama Jibril. Dan ia mengatakan bahwa Gus sebenar-benarnya ahli neraka!” Sakti bercerita dengan mimik ketakutan. Tapi, ketakutan Sakti tak ada seujung kuku kegetiran Gus Malik. Wajah orang alim itu dengan segera berubah. Melebihi pucat pasi seonggok mayat. Badannya gemetar dan apa yang kemudian keluar dari mulutnya adalah kalimat samar yang terbata-bata. 
Orang-orang mengenal Sakti sebagai santri yang tak pernah berdusta. Segala tindak-tanduk dan ucapannya adalah kebenaran. Bertahun-tahun Sakti nyantri di sebuah pesantren di daerah Jombang, Jawa Timur. Sekali pun jarak antara Klampis yang berada dalam wilayah Surabaya dengan Jombang hanya sekitar 100 kilometer, Sakti hanya pulang setahun sekali ketika Idul Fitri. ”Aku belajar sungguh-sungguh di sana dan tak ingin ada waktu yang terbuang untuk sesuatu yang kurang penting,“ katanya bila ada yang bertanya kenapa ia pulang sejarang itu.
”Dan, orang tuaku bahagia dengan keputusanku. Mereka ingin aku pintar menguasai ilmu agama dan kelak bisa jadi orang alim, seperti Gus Malik,“ lanjutnya. Kali ini adalah untuk pertama kalinya Sakti pulang tidak pada hari raya Idul Fitri. Dan kali ini pula, untuk pertama kalinya ia ingin menjadi orang alim yang tidak seperti Gus Malik.
Kabar yang dibawa Sakti dengan cepat menyebar dan membikin gempar seantero Klampis. Publik semakin bertanya-tanya, bagaimana mungkin orang sealim Gus malik bisa menjadi ahli neraka. Padahal, sosok paruh baya itu sudah dua kali naik haji, tiga kali umrah, dan tak pernah melewatkan sebagai imam shalat lima waktu di masjid serta kerap khutbah Jumat, bahkan tampak bersih dari maksiat. Rumor itu pun ramai terdengar di warung kopi, sekolah, masjid, dan berbagai tempat.
Sebagian orang pun bergumam, ”Bila Gus Malik saja masuk neraka, bagaimana kita yang membaca Alquran saja masih patah-patah?“ ”Jangan-jangan Sakti berbohong,“ kata sekelompok warga. Dugaan buruk mengenai Sakti mulai terbentuk. ”Tapi kita tahu, sejak kecil Sakti tidak pernah mengetahui ada kebohongan darinya,“ beberapa orang yang membela Sakti mulai membikin kubu. Dan, pendukung Sakti mulai mengembangkan prasangka, ”Jangan-jangan Gus Malik menyembunyikan sesuatu yang tidak baik.“
Sesungguhnya, Gus Malik selama ini tidak pernah menyembunyikan sesuatu yang tidak baik seperti dugaan kubu Sakti. Dan, Sakti tidak berbohong seperti prasangka pendukung Gus Malik. Sesosok makhluk bersayap yang sekujur tubuhnya bercahaya memang mendatangi Sakti malam itu. awalnya, Sakti mengira ia tengah bermimpi. Tapi faktanya, ia masih dalam kondisi terjaga dan merasakan cubitan di tangannya.
Makhluk itu benar-benar nyata dan meminta Sakti memperingatkan Gus Malik. ”Sebanyak dan sekhusyuk apa pun ia beribadah, pada akhirnya ia tetap akan menghuni neraka,“ kata makhluk yang mengaku jibril tersebut. Sakti, setelah berhasil menenangkan keterkejutannya bertanya, ”Bagaimana bisa?“ Alih-alih menjawab pertanyaan Sakti, makhluk itu malah mengepakkan sayap, dan perlahan, tubuh yang mulai terangkat itu kian samar, menembus atap rumah, lalu sama sekali lenyap dari pandangan Sakti. Sakti menggigil. Suhu ruangan tiba-tiba merosot tajam. Semalaman ia tidak bisa tidur. Dan, keesokan harinya, seusai shalat Subuh, ia bergegas mencegat bis jurusan Surabaya menuju kediaman Gus Malik.
Banyak perubahan pada diri Gus Malik setelah Sakti menyampaikan kabar itu. Sakti kembali ke pesantren keesokan harinya dan ia tidak mengetahui perubahan-perubahan pada diri Gus Malik tersebut. Selama di pesantren, entah kenapa tidak ada yang mengirimkan kabar kepadanya perihal Gus Malik. Dan, baru pada Idul Fitri tahun itu, ia kembali pulang dan mendapati bukan Gus Malik yang menjadi khatib sekaligus imam shalat Id seperti tahun-tahun sebelumnya.
Dari orang tuanya, Sakti mendapat cerita bahwa Gus Malik sudah tidak pernah lagi pergi ke masjid, tidak pernah mengaji, tidak pernah ikut sima’an atau tadarus Alquran, dan pada Ramadhan tahun itu itu, tidak sehari pun berpuasa. ”Percuma, toh aku akan tetap masuk neraka,“ jawab Gus Malik bila ada yang bertanya alasan perubahannya. Dan, yang lebih mengejutkan Sakti adalah Gus Malik telah menjadi pemabuk, ahli judi, dan kerap berkunjung ke lokalisasi Doli. Istri dan anak-anak Gus Malik yang malu dengan perubahan Gus Malik pulang ke rumah mertua Gus Malik di daerah Mojokerto.
”Banyak orang yang menyalahkanmu atas perubahan sikap Gus Malik,“ ujar orang tua Sakti. ”Tapi, aku mengatakan hal yang sebenarnya. Dan, karena aku menyayangi Gus Malik maka aku menyampikan kabar itu agar beliau bisa menyiapkan dirinya,“ ujar Sakti membela diri.
Gus Malik meninggal tiga tahun setelahnya ketika tengah berkencan dengan seorang pelacur di Doli. ”Over dosis obat kuat,“ terang polisi yang melakukan penyelidikan. Dan, sepuluh bulan kemudian, Sakti terkena penyakit perut yang parah. Ia dilarikan ke rumah sakit oleh kawan-kawannya sesama santri di pondok pesantren. Tapi upaya penyelamatan itu terlambat. ”Sakitnya sudah terlampau parah. Kami tak bisa berbuat apa-apa,“ jelas dokter yang menangani Sakti. Hari itu pula orang tua Sakti bergegas ke Jombang, tak lama usai mendapat kabar dari kiai di pesantren Sakti. Sepasang orang tua itu menangis mendapat Sakti yang sudah teramat kurus tubuhnya. Keduanya membacakan surah  Yaasin di telinga Sakti lantas berdoa, ”Gusti, bila anak kami masih Kau kehendaki hidup maka cepatkanlah kesembuhannya, namun bila tidak, maka lekaskanlah mau menjemputnya agar ia tak tersiksa.“
Orang tua Sakti tidak tahu dan tidak bisa melihat bahwa ketika mereka tengah membaca surah ke-36 Alquran itu dan berdoa, sesosok makhluk bersayap dengan tubuh bercahaya mendatangi Sakti. Sakti ingat, makhluk itulah yang dulu menemuinya dan mengaku bernama Jibril. Dan kini, makhluk itu berkata, ”Bersujudlah padaku sekali saja dan aku akan menyembuhkan sakitmu, menyelamatkanmu dari maut.“ Makhluk itu menyeringai. Dan kali ini, Sakti melihat sepasang taring mencuat. Dan alangkah merahnya mata makhluk itu. []

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto. Sebagian tulisannya pernah terbit di beberapa surat kabar. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam Kelompok Suka Jalan.
sumber: lakonhidup


Serimpi Sangopati (Cerpen Tempo)



RARA Ireng menatap sekali lagi merah cermai yang lekat di bibirnya. Dipatutnya bayangan pada cermin lonjong di depannya. Sebelumnya ia tak pernah membayangkan tubuh dan rupanya akan sesempurna itu. Ia nyaris tak percaya bayangan itu adalah dirinya.
Ia pernah pergi ke tengah kali dan menatap parasnya. Air bergelombang ketika gethek yang ditumpanginya berjalan pelan menyibak riak sungai yang kecokelatan. Ia merasa ikan-ikan mengikuti bayangannya, seolah mengolok rupanya yang sawo matang. Pada sekilas guratan air yang bergelombang itu, ia menemukan dirinya. 
Tapi di depan cermin lonjong malam itu, ia hampir tak dapat mengenali dirinya. Kulitnya berubah menjadi kuning langsat setelah aneka lulur diborehkan selama ia tinggal di keputren ini. Ia merasa asing dengan bayangan itu. Di pantulan bayangan cermin ia kehilangan wajahnya, kehilangan rupa yang selama bertahun-tahun dimilikinya.
Ia membenahi sanggulnya. Bokor mengkurep itu sungguh berat memasung kepala hingga lehernya. Dengan sanggul ini, kau tak bisa bergerak sembarangan. Sanggul ini akan menjadi kekuatanmu, kata mbah Yayi. Dua bulan penuh ia berlatih menari pada Mbah Yayi di pendopo keputren keraton. Itu bukan hal ringan. Ia bersama tiga anggota pasukan telik sandhi lain ditugaskan untuk mengikuti latihan menari Serimpi untuk menyambut kedatangan sang gupermenkumpeni.
Bergeraklah dengan pikiranmu, jangan hanya menggerakkan tubuhmu. Biarkan gamelan menggerakkan tubuhmu. Biarkan gamelan membawa jiwamu. Bergeraklah dengan pelan, ringan, gemulai seperti mimpi. Itulah tujuan Serimpi, kata Mbah Yayi lagi, menjawil ujung dagunya. Jangan lupa tersenyum.
Pentas tari adalah rahasia yang harus ia penuhi malam itu. Nyalinya benar-benar diuji. Tak seperti tugas-tugas biasanya ketika ia menjadi kesatria, menjadi mata-mata, pemburu atau bahkan pembunuh. Kali ini ia menjadi penari. Jelas ia tak akan mengenakan topeng penutup muka. Kini ia adalah tombak, yang langsung menghadang sasaran. Ini adalah kali pertama ia harus percaya pada kelemahlembutan dalam menghadapi lawan. Tugas berat itu langsung diperintahkan Kanjeng Sinuhun padanya. Berbulan-bulan ia melatih diri menjadi perempuan lembut sempurna dalam balutan gemulai tari agung putri kahyangan.
Rara Ireng menarik napas dalam-dalam. Dadanya berdebar. Kelonengan gamelan di pendopo keraton mulai dimainkan. Sekali lagi dipatutnya kaca. Centhung, garuda mungkur, sisir jeram sa’ajar dancundhuk menthul masih terpasang apik di sanggulnya. Ia merasa terlalu berlebihan. Namun ia tahu, bedak kuning yang dipasang di mukanya memang untuk menyembunyikan dirinya. Menyembunyikan jati dirinya.
Gamelan berkeloneng merdu. Barisan abdi dalem duduk bersimpuh menunggu Kanjeng Sinuhun. Rara Ireng menghanturkan sembah takzim. Abdi dalem membawa bokor berisi air kembang, mengharap keselamatan dan keberhasilan. Kanjeng Sinuhun berjalan menuju pendopo utama. Dengan tangan menyembah, Rara Ireng berjinjit mengikut di belakang.
AKU tak membayangkan pendopo akan sewingit ini. Ruangan menjadi lebih terang. Niyaga khidmat menabuh gamelan. Nada yang lamat-lamat terdengar menyayat. Aroma kamboja menyengat ruangan. Ini adalah tugas besar yang harus terlaksana. Upaya ini harus berhasil, Kanjeng Sinuhun harus bisa menyelamatkan pantai pesisir utara dari tangan serakah Belanda. Dan demi itulah aku berada di sini. Di garis depan. Pesisir utara adalah tanah air tempat segala cintaku bermula. Apa pun bisa terjadi hari ini. Senjata yang kusemat ini akan menjadi bekal ketika semua harus berakhir tak sesuai rencana. Tak ada lagi permainan. Peluru pun siap ditembakkan. Aku harus mengasah kesabaran. Inilah harga mahal untuk kemerdekaan.
Panji-panji perang tegak berjajar di tepi ruangan. Semoga kumpenimerah itu tak peduli makna panji-panji ini. Aku tersentak. Benar-benar kurang ajar cindhil raksasa ini. Mereka duduk sama tinggi dengan Kanjeng Sinuhun! Kalau bukan demi tugas ini pasti sudah kugorok leher mereka yang gendut berlipat itu dengan cundrik. Tapi aku sadar, kesombongan mereka memang harus ditaklukkan. Dan untuk itulah aku berada di sini. Mengelabui makhluk-makhluk merah itu dan menanggalkan keserakahan mereka.
Lembut suara gamelan memenuhi ruangan. Gaungnya membawa siapa saja pada bayangan surga. Dadaku berdegup kencang. Akankah Serimpi Sangopati ini benar-benar menjadi jalan kematian? Aku menghayati alunan lembut itu. senyum manis harus segera kurekahkan. Senyum yang melambangkan api yang beterbangan dalam diri manusia. Keserakahan dan kesombongan mereka harus ditumbangkan. Kini aku tahu mengapa aku harus merias diri sedemikian rupa untuk tarian ini. Karena itulah satu-satunya hal yang dapat menjadi pembeda. Aku harus bisa melepas diriku sendiri dan benar-benar menjadi penari. Pupur tebal ini bahkan mengelabui diriku sendiri. Mungkin juga akan mengelabui mautku. Juga parakumpeni itu. Mereka tak boleh tahu arti semua ini. Mereka tak boleh tahu siapa aku, anggota pasukan telik sandhi yang biasa menyusup ke sarang mereka.
Gayatri menangkap keresahanku dengan siaga. Dialah yang menjadi angin dalam pementasan ini. Serimpi Sangopati. Drama sederhana tentang pertarungan. Sebuah peperangan yang dilakukan dalam gerak halus gemulai swargaloka. Drama pertarungan manusia menuju mimpi sebelum menghadapi kematian.
Dengung gong lembut bergema membawa angan ke dunia yang tak terjamah. Dunia tanpa bentuk Serimpi Sangopati. Benar nasihat Mbah Yayi, biarkan musik membawa dirimu menari. Aku mengikuti arus itu, alunan yang mengerakkan raga begitu saja. Aku hanyut, menerbangkan para kumpeni ke alam mimpi.
Api, tanah, air dan angin dalam tarian ini menembus ruang mata parakumpeni yang menganga larut dalam kelembutan. Gerak agung ini pun menyihirku. Berkali-kali takjub mataku menyaksikan cindhe kembang ungu tua yang kami kenakan bermekaran. Di ambang cahaya yang semakin temaram, kembang-kembang itu merekah segar. Mereka hidup, menawarkan mimpi ungu surgawi dalam balutan perang berselubung gemulai tari.
Arak pun mengisi ruangan. Inilah hidup yang sebenarnya, mampir ngombe. Dan inilah hidup yang sebenarnya bagi kami, panggung halus yang mencengkeram tulang belakang. Kami akan pertahankan tanah kelahiran kami. Cindhil merah itu terus menenggak arak ketan ke mulut mereka yang lebar. Beberapa kali roncean tiba dhadhatersibak, menebarkan wangi yang gaib. Aroma kematian. Aku menggigil dalam tarian. Musik bergelombang pelan. Angin berembus dingin menerbangkan harum melati, kantil dan kamboja, mengalahkan aroma kecut ragi ketan di cawan-cawan yang tak henti mereka reguk.
Ketika gamelan menaikkan dan mempercepat bunyi, tubuhku mulai mengkilap oleh keringat. Gerak gemulai ini menghabiskan tenaga yang setara dengan seratus kali tikaman belati. Tubuhku duduk, berdiri dan berputar perlahan seperti api yang tenang membakar. Seperti angin jahat yang perlahan menerbangkan nafsu duniawi, seperti menggali tanah sebelum mengubur diri sendiri, seperti berenang melawan arus seribu pusar air di kedalaman. Tubuhku lelah, gamelan sendu terus mengalun.
Kukibarkan sampir putih hingga jatuh ke pangkuan. Sampir putih yang menjadi ketulusanku mengabdi pada negeri ini. Aku mengatur nafas menolak lelah, tak sedetik pun aku boleh lengah. Aku terus menari.
Mata para kumpeni  itu mulai memerah. Hanya cawan arak dan tuak itulah yang mengalihkan pandangan mereka dari pentas. Selebihnya, mata itu menatap kami dari kepala hingga ujung kaki. Jemparing, jebeng, pistol dan cundrik tersimpan rapi di lipatan kain kami. Kami harus terus bersiaga. Sesekali senjata-senjata itu tergenggam dalam adegan perang dalam tarian, dan lagi-lagi kami harus menahan diri dari kepungan mata laknat kumpeni. Kami harus bisa mengelabuikumpeni dengan siasat ini.
Para kumpeni dan Kanjeng Sinuhun telah membahas perjanjian. Perjanjian perihal kedudukan pantai pesisir utara dan hutan-hutan jati di sekitarnya. Kupasang telinga dan kusiagakan mata. Arak dan tuak sudah bekerja. Suasana mulai gempita. Para kumpeni tertawa-tawa. Bau keringat mereka menguar ke udara. Bacin, kecut, seperti aroma keju campur cerutu. Waktu berjalan lamban. Aku yakin tak ada yang sia-sia. Aku percaya pada rencana yang telah dititahkan Kanjeng Sinuhun.
Gamelan melantun sunyi. Sesaat sunyi mencekam, kawanan butobule itu pun menandatangani kertas perjanjian. Cawak tuak kosong berserakan. Kanjeng Sinuhun mengerdipkan mata pada niyaga. Gamelan kembali menggema. Sesekali tawa mereka meledak memenuhi ruangan. Kanjeng Sinuhun tersenyum. Cita-cita kami telah tercapai. Kami berhasil menaklukkan mereka dalam perang yang gemulai dan tanpa pertumpahan darah. Pertunjukan usai. Kami bersimpuh duduk tegak takzim di pinggir ruangan, mengatur napas lelah agar tak terdengar. Letih luar biasa. Inilah sebenarnya pertarungan kesatria perempuan.
Kanjeng Sinuhun telah menyiapkan kereta kencana dengan dua kuda putih di halaman. Sambil tertawa mereka berjalan sempoyongan, bersender di saka guru pendopo. Tubuh mereka doyong hampir rubuh. Beberapa prajurit jaga membantu mereka memasuki kereta. Mereka menyanyikan lagu berbahasa Belanda dengan sumbang. Kanjeng Sinuhun berjalan ke depan, melepas tamu-tamu hingga hilang dari pandangan.
RARA Ireng membawa kudanya berlari menempuhi riak-riak ombak di sepanjang pantai utara. Ia berhenti di ambang pantai. Dituntunnya Ireng, kudanya yang hitam mengkilat gagah berani. Berdua mereka berjalan beriringan di sepanjang pantai. Ditatapnya pasir pantai yang lolos dari cengkeraman kaum kumpeni. Inilah pesisir yang ia pertahankan dengan gemulai pusaka agung tarian perang beberapa bulan yang lalu agar tak jatuh ke tangan penjajah.
Ditatapnya bulan sabit yang menghias langit. Sesaat lagi fajar merah akan merekahkan pantai. Ia akan menangkupkan telapak tangan untuk bersemadi. Dari arah selatan terdengar derap-derap kuda melaju. Ditajamkannya pandangan dan pendengaran. Gerombolan kuda itu tak berbendera, tak berpanji. Alis hitamnya segera menaut ketika matanya menangkap para penunggang kuda yang melaju ke arahnya. Seketika dicabutnya cundrik dari lipatan bajunya. Cundrikhadiah dari Kanjeng Sinuhun setelah pementasan tari serimpi itu. Ia tahu, makhluk-makhluk serakah itu akan mengkhianati perjanjian.

Rumah Ladam,
Januari 2014

Catatan
Gethek: rakit dari bambu. Bokor mengkurep: jenis sanggulan rambut.Telik sandhi: regu mata-mata. Abdi dalem: pegawai istana. Niyaga: penabuh gamelan. Cindhil: anak tikus yang masih merah. Cundrik: keris kecil. Cindhe kembang: salah satu jenis motif batik. Mampir ngombe: mampir minum, falsafah hidup orang jawa memahami hakikat hidup di dunia. Tiba dhadha: roncean kembang melati yang biasanya digunakan para pengantin, disampirkan di bagian samping dada. Jemparing: panah. Jebeng: tombak pendek. Buto: raksasa jahat. Saka guru: tiang bangunan.
Karisma Fahmi Y

Lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Ia tinggal di Solo.
sumber lakonhidup

Negeriku Sakit


Negeriku izinkan sang pujangga tanpa nama bercerita
sepenggal kata, kalimat, atau bahkan bait perbait syair; diantara gemuruhnya politik tanpa etik
Negeri ini tengah sakit, keadilan dihargai dengan duit
Kepala manusia dihargai dengan duit , bahkan lebih murah dari harga kepala sapi
Kekuasaan dengan duit
Kebijkana dengan duit
Negeriku kapan kau bangkit?











Sajak Untuk Fitri



Sajak ini aku torehkan dalam kelam malam ini tentang diriku
Dipaersimpangan jalan itu, alfa; kabut mencekam

Hingga menorehklan luka-luka tanpa darah
Tak ada apa
Namun yang ada hanya diam;
Kau antarkan aku pada rambu-rambu lalu lintas yang tak jelas

Tapi kau tahu kan fitri
Dalam kegelisahan yang selalu menggelitik setiap selang waktu
Meronta ronta dalam biur nafasku
Hingga angin malam datang mebawaku kelembah yang aku tak pernah menegenalnya
tak hany itu fitri
cinta yang kau tancapkan di persimpangan jalan dan rerontokan daun itu
menjelma dalam fatamorgana, silau yang aku rasa

Ada apa ini fitri?
Apakah ini pertanda tentang cinta haru biru
Ataukah ini alif dan ba’ menunggu datangnya ya’ hingga wassalam
Ataukah ini akan mengantarkan kita kepusaran bumi

Coba lihatlah aku fitri, lihatlah aku
malam ini aku akan lampiaskan nafsu cinta  yang kian mengiang-ngiang
dalam setiap desahan nafas serta tarian wirid cintaku
                                    hingga akhir ini kau hadir untukku
                                                            terima kasih fitri