Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
PERMAINAN ANAK-ANAK
Enam Cerita (Cerpen Tempo)
Posted by Memoar Pena on Jumat, 23 Mei 2014
BILA ada
yang menceritakan padamu senja terindah yang pernah dilihatnya, dengan langit
yang selalu kemerahan, dia pasti belum datang ke tempat kami. Senja terindah
hanya ada di sini. Senja yang kuning keemasan, seolah madu lembut dan bening
yang ditumpahkan ke langit hingga segala yang mengapung di permukaan air
menjadi tampak kuning berkilauan. Senja yang tak hanya bening, tapi begitu
hening. Selembar daun yang jatuh tak akan mengusik keheningannya. Angin sejuk
selalu membiarkan daun-daun kelapa setenang bayang-bayang.
Waname mengatakan pada saya, bahkan Tuhan pun
selalu memilih tempat ini saat ingin menenangkan diri. Sejak kanak-kanak kami
suka duduk berdua menikmati senja. “Keindahan tak pernah abadi,” kata Waname.
“Ketidakabadiannya itulah yang membuatnya begitu berharga. Tataplah senja itu,
Tikami. Rekam baik-baik, dan simpan dalam matamu.” Waname suka sekali berenang.
Suara kecipak airnya terdengar begitu jerning hingga ke kejauhan teluk. Suatu
hari Waname bersampan, dan tak pernah kembali. Padahal seminggu lagi ia akan
melamarku dengan 50 ekor babi.
Di gereja, penduduk Otikara mendoakan arwahnya
sembari berbisik-bisik tentang orang-orang yang menculik Waname. Pastilah
mereka pasukan terlatih, yang menganggap Waname harus dilenyapkan karena selalu
menghasut penduduk. Segalanya memang berubah sejak pabrik tambang berdiri tak
jauh dari teluk. Keindahan memang tak pernah abadi. Bila suatu hari kau datang
ke tempat kami, kau tak akan melihat senja yang kuning berkilauan itu lagi.
Tapi jangan kecewa. Bila beruntung, kau masih
bisa melihat senja kuning berkilauan itu di mata seorang gadis buta yang setiap
senja berdiri di tepi teluk. Namanya Tikami. Ia terus menyimpan senja itu dalam
matanya. Ia satu-satunya yang melihat ketika Waname dihabisi. Pasukan terlatih
itu telah merusak matanya.
Epicentrum,
2 Februari 2014
PENIUP SERULING GAIB
INGATLAH Peniup Seruling Gaib bila suatu
malam kau mendengar suara seruling mengalun penuh kepedihan. Bisa jadi seorang
yang paling kau cintai akan mati. Atau kau akan menderita selamanya karena
kehilangan telinga.
Tak pernah ada yang melihat langsung Peniup
Seruling Gaib itu. Orang-orang hanya menduga sosoknya yang serupa bayang-bayang
api berkobar, yang meninggalkan jerit tangis berkepanjangan begitu suara
seruling itu lenyap di kejauhan. “Tutup telingamu rapat-rapat, pegang daun
telingamu kuat-kuat, bila kau tak ingin tersayat,” ibu-ibu langsung berkata
pada anak-anak mereka setiap si Peniup Seruling Gaib lewat. Siapa pun yang tak
tahan mendengar suara seruling itu akan mati mengenaskan. Bila pun hidup akan
kehilangan telinga.
Ada cerita yang dipercaya: ia dulu seorang
peniup seruling paling hebat di kota ini. Ia berhasil memikat semua perempuan
dengan tiupan serulingnya. Siapa pun yang mendengar alunan serulingnya, akan
jatuh cinta dan terus-menerus disesah kerinduan yang tak tertanggungkan.
Termasuk Putri Raja yang jelita. Sudah pasti Raja murka mengetahui anaknya
jatuh cinta pada seorang peniup seruling yang tak jelas kerjaannya selain
sepanjang hari sepanjang malam berjalan keliling meniup seruling. Ia
perintahkan prajurit menangkapnya.
Algojo punya gagasan brilian: cara terbaik
menyiksa peniup seruling ialah dengan membuat tuli telinganya. “Dia memang akan
masih bisa meniup seruling, tapi tak bisa lagi mendengar suara serulingnya
sendiri. Pastilah peniup seruling akan menderita bila tak bisa mendengar suara
seruling yang ditiupnya.” Algojo pun merusak telinga si Peniup Seruling.
Mengiris dan memotong daun telinganya.
Mungkin Peniup Seruling Gaib itu muncul agar kau
bisa memahami kemalangannya. Mungkin juga ia hanya ingin sekadar meminjam
telinga; dengan memotong telingamu, supaya ia bisa mendengar lagi suara
serulingnya.
Bila kau mendengar suara seruling tengah malam,
peganglah telingamu erat-erat.
Jakarta,
22 Januari 2014
KISAH DUA BOCAH
BOCAH itu ingin sekali menuruni tangga yang
seolah terus menerus melambai padanya. Bocah itu ingin sekali naik tangga yang
bagai menyimpan langit luas di ujungnya. Tapi tak bisa.
“Jangan pernah turun ke tangga itu,” kata
ibunya. “Kau hanya akan menjumpai kegelapan. Tempat hidup makhluk busuk yang
akan menghisap kebahagiaanmu. Kau dengar suara-suara yang merayap di bawah
itu?” Lalu bocah itu kembali mendengar jerit seorang anak yang disiksa
sepanjang hari. “Kau akan dicabik-cabik seperti itu!”
“Jangan pernah berpikir untuk naik tangga itu,”
kata ayahnya. “Di atas sana kau hanya akan merasakan kehampaan. Jiwamu akan
dimangsa makhluk terkutuk yang tak pernah mengenal kegembiraan. Kau dengar
suara yang melayang di loteng itu?” Bocah itu memang selalu mendengar suara
ganjil yang menakutkan berjalan di atas kepalanya. “Iblis-iblis di atas sana
akan mencacah-cacah kakimu.”
Ibu menatap bocah itu, yang menunduk ketakutan.
Sebelum pergi dan menutup pintu kamar, ia pastikan kembali rantai yang mengikat
tubuh anaknya telah terkunci kuat. Sebelum keluar kamar, ayah mengelus kepala
bocah itu, yang diam bersandar memandangi kedua kakinya yang terpasung.
Terdengar langkah kaki menuruni tangga.
Terdengar langkah kaki menaiki tangga. Sebentar tangga itu terlihat terang,
seperti ada cahaya lampu dari pintu kamar yang perlahan terbuka. Kemudian
kembali gelap. Kedua bocah itu mendengar dengus nafas busuk. Suara mengeram
dalam kegelapan. Seperti ada iblis bersenggama.
Yogyakarta,
30 Januari 2014
PERMAINAN ANAK-ANAK
APA permainan paling menyenangkan semasa
kanak-kanakmu? Ada permainan masa kecil yang kami sukai. Bukan gobak sodor,
congklak, bola bekel atau petak umpet. Tapi memotong jari kelingking.
Ini permainan sederhana. Kami berkumpul, dan
setiap anak harus bicara jujur. Bila kami menganggapnya berbohong, maka anak
itu harus membuktikan bahwa ia tidak berbohong dengan memotong jari
kelingkingnya. Dan memang, setiap kali kami memotong jari kami, jari itu tetap
utuh. Hidup tanpa kebohongan memang menyenangkan. Percayalah, kebohongan jauh
lebih menakutkan dari kematian.
Biarkan mereka menganggap
kita hina, terbuang dan hidup sebagai budak kegelapan, tapi jangan pernah
sekali-kali berbohong. Nasihat seperti itu membuat kami bahagia,
meski dikucilkan. Ada tembok mengelilingi tempat tinggal kami, yang tak boleh
kami melewatinya. Kami hanya berani muncul malam hari ketika kegelapan membuat
lembah ini menjadi semakin menakutkan: pohon-pohon tua dan angker, dengan sulur
seperti usus berjuntaian, bayangan nisan dan pekuburan yang terlihat pucat.
Hanya iblis dan orang-orang bermasalah yang nekat ke sini. Mereka
mengendap-endap membuang mayat atau janin, lalu segera bergegas.
Maka kami heran ketika melihat ada gadis kecil
berjalan sendirian. Ia mungkin anak kampung seberang sungai yang tersesat. Atau
mungkin ia mau mencuri buah mangga di pohon dekat gerbang pemakaman. Buahnya
memang dikenal sangat manis. Ia tak kaget ketika kamu memergokinya. Ia bilang
tak hendak mencuri mangga. Kami tak percaya. “Berani potong jari kalau saya
bohong!” katanya.
Kami pun mengajaknya bermain. Kami duduk
melingkar. Ia mengulurkan tangannya, terus meyakinkan kami bahwa ia tak
berbohong. Begitu tenang ia memotong kelingkingnya. Kami menjerit melihat jari
itu berdarah, dan langsung lari ketakutan.
Aku, yang sejak tadi sembunyi di pohon besar,
memperhatikan anak itu. Aku mengenalnya. Ia anak tukang sulap yang tinggal di
desa sebelah. Pastilah ia telah diajari trik kecil itu. Ia memungut jarinya
yang putus.
Pelan-pelan dari belakang kujulurkan tanganku
yang rusak dan hitam, ke lehernya.
VIN+
Jakarta, 31 Januari 2014
INSOMNIA
KANTUK adalah kutukan. Tidur adalah
ancaman. Ia tak pernah lagi merasa tenang setiap matanya hendak terpejam sejak
istri dan dua anaknya mati mengenaskan digorok dan dibacok rampok. Ia yang
sedang di luar kota ditelepon tetangga, dan dalam bus matanya terus terjaga
selama enam belas jam perjalanan pulang. Kepalanya penuh jeritan anaknya.
Bahkan setelah dua hari penguburan masih saja ia mendengar jeritan itu. Ia
terus melihat darah menggenangi lantai rumah. Sepanjang malam ia terus berjaga,
duduk di kursi menatap pintu rumah, karena yakin para perampok itu akan datang
lagi untuk membunuhnya. Pisau belati selalu tak jauh dari jangkauannya.
Kawan dan rekan sekantor menasihatinya untuk
istirahat. Kamu sudah seperti mayat hidup, kata mereka. Tidurlah.
Tapi ia tak mau menyerah, meski tubuh telah
begitu lelah. Tetap tak mau takluk oleh kantuk. Bergelas-gelas kopi. Segala
obat yang bisa membuatnya tetap terjaga. Lampu selalu ia nyalakan. Atau ia
pergi keluyuran menyusuri jalanan agar tak bosan. Belati terselip di pinggang.
Di ujung gang seseorang terlihat berdiri menghadang. Ia bersiap menyerang.
Ternyata itu sebuah tiang. Kota telah penuh bandit. Setiap saat para pembunuh
itu akan menyerangnya. Sebelum bandit-bandit itu lenyap, tidur adalah neraka.
Sebuah bayangan berkelebat. Ia segera mengejarnya. Tak ada siapa-siapa.
Berminggu-minggu tak tidur telah membuatnya
menjadi makhluk kumal dengan mata merah cekung, hingga siapa pun tak merasa
nyaman di dekatnya. Tapi ia sudah mulai terbiasa sendirian. Mengurung diri
dalam kamar bersama kecemasannya. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Dan para
kenalan mulai melupakannya. Sampai tetangga yang mencium bau busuk segera
menelepon polisi.
Ia ditemukan mati meringkuk dalam kelopak
matanya.
Hotel
Haris, 4 Februari 2014
PENARI SENJA
IBUKU seorang penari, ia bercerita. Aku
ingat, saat aku berusia 5 tahun, ibu mulai mengajariku menari, di pendopo
rumah. Aku selalu tak pernah merasa mampu menari sebagus ibu. Tubuhnya mengalir
lembut, begitu halus, seakan bergerak mengikuti angin. Aku selalu merasakan
jiwa ibulah yang menari. Bahkan ketika tubuh ibu hanya berdiri dengan selendang
di tangan, ia seperti tengah menarikan yang tak bisa kulihat: semesta seakan
mengitarinya. Aku seperti mendengar gesekan bintang-bintang nun jauh di
kegelapan.
Tak ada penari sebaik ibu. Setidaknya di
kampungku. Ibu satu-satunya penari yang paling dikagumi. Ia diundang menari di
banyak acara. Bahkan ketika Presiden Sukarno datang ke kota kabupaten, ibu
menari di hadapannya. Sebulan setelah itu ibu ditangkap. Ia sedang mengajariku
menari, bersama puluhan anak lain, ketika empat tentara datang, dan langsung menyeretnya.Ibu
orang yang berbahaya begitu kudengar kemudian setelah aku dewasa. Aku
sama sekali tak mengerti, kenapa seorang penari seperti ibu yang begitu lembut
bisa dianggap membahayakan negara.
Aku tak pernah bertemu ibu lagi. Mungkin ia mati
disiksa di penjara. Tapi aku merasakan ibu dalam jiwa dan tubuhku. Ibu seolah
ada dalam diriku: menuntunku untuk menari. Sering tengah malam aku tiba-tiba
terbangun dan menari begitu saja. Tubuhku menari meski pun aku tak
memaksudkannya menari. Kamu menari sebagus ibumu, kawan-kawan
sering berkomentar. Padahal aku sendiri selalu merasa kalau aku tak pernah bisa
menari sebagus ibu. Jangankan menari sebagus ibu, menari dangdut yang acak-adut
pun rasanya aku tak bagus-bagus amat. Tapi hidup memaksaku terus menari.
Dan ia pun perlahan mulai
menari di depanku. Telanjang.
Begitulah, setiap senja aku memandangi patung di
depan gedung itu. Aku suka sekali menikmati tariannya yang begitu mempesona.
Tentu saja, aku selalu diusir satpam setiap kali berlama-lama berdiri di dekat
patung itu. Orang gila semacamku sudah pasti mengganggu pemandangan. Apalagi
ketika patung itu menari setiap senja. Dan orang-orang kantoran yang
lalu-lalang, berhenti sejenak memandanginya.
Jakarta,
21 Januari 2014
Penulis: Agus Noor; Buku-buku Agus
Noor yang akan terbit adalah Kitab Ranjang (novel) danCerita
buat Para Kekasih (kumpulan cerita pendek).
sumber: Lakon Hidup
Orang Alim dari Klampis (Cerpen Republika))
Posted by Memoar Pena on Kamis, 22 Mei 2014
Cerpen Dadang Ari Murtono (Republika, 23
Februari 2014)
TIDAK ada alasan
yang mendasari kepulangan terburu-buru Sakti kali ini selain untuk menemui Gus
Malik, orang alim dari Klampis, dan menyampaikan pesan yang dititipkan sesosok makhluk
bersayap pada malam Jumat kemarin, ini juga sesuai ia berwirid sepanjang Kamis.
”Gus, makhluk itu mengaku bernama Jibril. Dan ia mengatakan bahwa Gus
sebenar-benarnya ahli neraka!” Sakti bercerita dengan mimik ketakutan. Tapi,
ketakutan Sakti tak ada seujung kuku kegetiran Gus Malik. Wajah orang alim itu
dengan segera berubah. Melebihi pucat pasi seonggok mayat. Badannya gemetar dan
apa yang kemudian keluar dari mulutnya adalah kalimat samar yang
terbata-bata.
Orang-orang mengenal Sakti sebagai santri yang tak pernah
berdusta. Segala tindak-tanduk dan ucapannya adalah kebenaran. Bertahun-tahun
Sakti nyantri di sebuah pesantren di daerah
Jombang, Jawa Timur. Sekali pun jarak antara Klampis yang berada dalam wilayah
Surabaya dengan Jombang hanya sekitar 100 kilometer, Sakti hanya pulang setahun
sekali ketika Idul Fitri. ”Aku belajar sungguh-sungguh di sana dan tak ingin
ada waktu yang terbuang untuk sesuatu yang kurang penting,“ katanya bila ada
yang bertanya kenapa ia pulang sejarang itu.
”Dan, orang tuaku bahagia dengan keputusanku. Mereka ingin aku
pintar menguasai ilmu agama dan kelak bisa jadi orang alim, seperti Gus Malik,“
lanjutnya. Kali ini adalah untuk pertama kalinya Sakti pulang tidak pada hari
raya Idul Fitri. Dan kali ini pula, untuk pertama kalinya ia ingin menjadi
orang alim yang tidak seperti Gus Malik.
Kabar yang dibawa Sakti dengan cepat menyebar dan membikin gempar
seantero Klampis. Publik semakin bertanya-tanya, bagaimana mungkin orang sealim
Gus malik bisa menjadi ahli neraka. Padahal, sosok paruh baya itu sudah dua
kali naik haji, tiga kali umrah, dan tak pernah melewatkan sebagai imam shalat
lima waktu di masjid serta kerap khutbah Jumat, bahkan tampak bersih dari
maksiat. Rumor itu pun ramai terdengar di warung kopi, sekolah, masjid, dan
berbagai tempat.
Sebagian orang pun bergumam, ”Bila Gus Malik saja masuk neraka,
bagaimana kita yang membaca Alquran saja masih patah-patah?“ ”Jangan-jangan
Sakti berbohong,“ kata sekelompok warga. Dugaan buruk mengenai Sakti mulai
terbentuk. ”Tapi kita tahu, sejak kecil Sakti tidak pernah mengetahui ada
kebohongan darinya,“ beberapa orang yang membela Sakti mulai membikin kubu.
Dan, pendukung Sakti mulai mengembangkan prasangka, ”Jangan-jangan Gus Malik
menyembunyikan sesuatu yang tidak baik.“
Sesungguhnya, Gus Malik selama ini tidak pernah menyembunyikan
sesuatu yang tidak baik seperti dugaan kubu Sakti. Dan, Sakti tidak berbohong
seperti prasangka pendukung Gus Malik. Sesosok makhluk bersayap yang sekujur
tubuhnya bercahaya memang mendatangi Sakti malam itu. awalnya, Sakti mengira ia
tengah bermimpi. Tapi faktanya, ia masih dalam kondisi terjaga dan merasakan
cubitan di tangannya.
Makhluk itu benar-benar nyata dan meminta Sakti memperingatkan Gus
Malik. ”Sebanyak dan sekhusyuk apa pun ia beribadah, pada akhirnya ia tetap
akan menghuni neraka,“ kata makhluk yang mengaku jibril tersebut. Sakti,
setelah berhasil menenangkan keterkejutannya bertanya, ”Bagaimana bisa?“
Alih-alih menjawab pertanyaan Sakti, makhluk itu malah mengepakkan sayap, dan
perlahan, tubuh yang mulai terangkat itu kian samar, menembus atap rumah, lalu
sama sekali lenyap dari pandangan Sakti. Sakti menggigil. Suhu ruangan
tiba-tiba merosot tajam. Semalaman ia tidak bisa tidur. Dan, keesokan harinya,
seusai shalat Subuh, ia bergegas mencegat bis jurusan Surabaya menuju kediaman
Gus Malik.
Banyak perubahan pada diri Gus Malik setelah Sakti menyampaikan
kabar itu. Sakti kembali ke pesantren keesokan harinya dan ia tidak mengetahui
perubahan-perubahan pada diri Gus Malik tersebut. Selama di pesantren, entah
kenapa tidak ada yang mengirimkan kabar kepadanya perihal Gus Malik. Dan, baru
pada Idul Fitri tahun itu, ia kembali pulang dan mendapati bukan Gus Malik yang
menjadi khatib sekaligus imam shalat Id seperti tahun-tahun sebelumnya.
Dari orang tuanya, Sakti mendapat cerita bahwa Gus Malik sudah
tidak pernah lagi pergi ke masjid, tidak pernah mengaji, tidak pernah ikut sima’an atau tadarus Alquran, dan pada
Ramadhan tahun itu itu, tidak sehari pun berpuasa. ”Percuma, toh aku akan tetap masuk neraka,“
jawab Gus Malik bila ada yang bertanya alasan perubahannya. Dan, yang lebih
mengejutkan Sakti adalah Gus Malik telah menjadi pemabuk, ahli judi, dan kerap
berkunjung ke lokalisasi Doli. Istri dan anak-anak Gus Malik yang malu dengan
perubahan Gus Malik pulang ke rumah mertua Gus Malik di daerah Mojokerto.
”Banyak orang yang menyalahkanmu atas perubahan sikap Gus Malik,“
ujar orang tua Sakti. ”Tapi, aku mengatakan hal yang sebenarnya. Dan, karena
aku menyayangi Gus Malik maka aku menyampikan kabar itu agar beliau bisa
menyiapkan dirinya,“ ujar Sakti membela diri.
Gus Malik meninggal tiga tahun setelahnya ketika tengah berkencan
dengan seorang pelacur di Doli. ”Over dosis obat kuat,“ terang polisi yang
melakukan penyelidikan. Dan, sepuluh bulan kemudian, Sakti terkena penyakit
perut yang parah. Ia dilarikan ke rumah sakit oleh kawan-kawannya sesama santri
di pondok pesantren. Tapi upaya penyelamatan itu terlambat. ”Sakitnya sudah
terlampau parah. Kami tak bisa berbuat apa-apa,“ jelas dokter yang menangani
Sakti. Hari itu pula orang tua Sakti bergegas ke Jombang, tak lama usai
mendapat kabar dari kiai di pesantren Sakti. Sepasang orang tua itu menangis
mendapat Sakti yang sudah teramat kurus tubuhnya. Keduanya membacakan
surah Yaasin di telinga Sakti lantas berdoa, ”Gusti, bila anak kami
masih Kau kehendaki hidup maka cepatkanlah kesembuhannya, namun bila tidak,
maka lekaskanlah mau menjemputnya agar ia tak tersiksa.“
Orang tua Sakti tidak tahu dan tidak bisa melihat bahwa ketika
mereka tengah membaca surah ke-36 Alquran itu dan berdoa, sesosok makhluk
bersayap dengan tubuh bercahaya mendatangi Sakti. Sakti ingat, makhluk itulah
yang dulu menemuinya dan mengaku bernama Jibril. Dan kini, makhluk itu berkata,
”Bersujudlah padaku sekali saja dan aku akan menyembuhkan sakitmu,
menyelamatkanmu dari maut.“ Makhluk itu menyeringai. Dan kali ini, Sakti
melihat sepasang taring mencuat. Dan alangkah merahnya mata makhluk itu. []
Dadang Ari
Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto. Sebagian tulisannya pernah terbit di
beberapa surat kabar. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013). Saat ini bekerja penuh waktu
sebagai penulis dan terlibat dalam Kelompok Suka Jalan.
sumber: lakonhidup
Serimpi Sangopati (Cerpen Tempo)
Posted by Memoar Pena on Jumat, 16 Mei 2014
RARA Ireng menatap sekali lagi merah cermai yang lekat di bibirnya.
Dipatutnya bayangan pada cermin lonjong di depannya. Sebelumnya ia tak pernah
membayangkan tubuh dan rupanya akan sesempurna itu. Ia nyaris tak percaya
bayangan itu adalah dirinya.
Ia pernah pergi ke tengah kali dan menatap
parasnya. Air bergelombang ketika gethek yang ditumpanginya berjalan pelan menyibak riak sungai yang
kecokelatan. Ia merasa ikan-ikan mengikuti bayangannya, seolah mengolok rupanya
yang sawo matang. Pada sekilas guratan air yang bergelombang itu, ia menemukan
dirinya.
Tapi di depan cermin lonjong malam itu, ia
hampir tak dapat mengenali dirinya. Kulitnya berubah menjadi kuning langsat
setelah aneka lulur diborehkan selama ia tinggal di keputren ini. Ia merasa
asing dengan bayangan itu. Di pantulan bayangan cermin ia kehilangan wajahnya,
kehilangan rupa yang selama bertahun-tahun dimilikinya.
Ia membenahi sanggulnya. Bokor mengkurep itu
sungguh berat memasung kepala hingga lehernya. Dengan
sanggul ini, kau tak bisa bergerak sembarangan. Sanggul ini akan menjadi
kekuatanmu, kata mbah
Yayi. Dua bulan penuh ia berlatih menari pada Mbah Yayi di pendopo keputren
keraton. Itu bukan hal ringan. Ia bersama tiga anggota pasukan telik sandhi lain
ditugaskan untuk mengikuti latihan menari Serimpi untuk menyambut kedatangan
sang gupermenkumpeni.
Bergeraklah dengan
pikiranmu, jangan hanya menggerakkan tubuhmu. Biarkan gamelan menggerakkan
tubuhmu. Biarkan gamelan membawa jiwamu. Bergeraklah dengan pelan, ringan,
gemulai seperti mimpi. Itulah tujuan Serimpi, kata Mbah Yayi lagi, menjawil ujung dagunya. Jangan lupa tersenyum.
Pentas tari adalah rahasia yang harus ia penuhi
malam itu. Nyalinya benar-benar diuji. Tak seperti tugas-tugas biasanya ketika
ia menjadi kesatria, menjadi mata-mata, pemburu atau bahkan pembunuh. Kali ini
ia menjadi penari. Jelas ia tak akan mengenakan topeng penutup muka. Kini ia
adalah tombak, yang langsung menghadang sasaran. Ini adalah kali pertama ia
harus percaya pada kelemahlembutan dalam menghadapi lawan. Tugas berat itu
langsung diperintahkan Kanjeng Sinuhun padanya. Berbulan-bulan ia melatih diri
menjadi perempuan lembut sempurna dalam balutan gemulai tari agung putri
kahyangan.
Rara Ireng menarik napas dalam-dalam. Dadanya
berdebar. Kelonengan gamelan di pendopo keraton mulai dimainkan. Sekali lagi
dipatutnya kaca. Centhung,
garuda mungkur, sisir jeram sa’ajar dancundhuk
menthul masih
terpasang apik di sanggulnya. Ia merasa terlalu berlebihan. Namun ia tahu,
bedak kuning yang dipasang di mukanya memang untuk menyembunyikan dirinya.
Menyembunyikan jati dirinya.
Gamelan berkeloneng merdu. Barisan abdi dalem duduk
bersimpuh menunggu Kanjeng Sinuhun. Rara Ireng menghanturkan sembah takzim. Abdi dalem membawa
bokor berisi air kembang, mengharap keselamatan dan keberhasilan. Kanjeng
Sinuhun berjalan menuju pendopo utama. Dengan tangan menyembah, Rara Ireng
berjinjit mengikut di belakang.
AKU tak membayangkan pendopo akan sewingit ini.
Ruangan menjadi lebih terang. Niyaga khidmat menabuh gamelan. Nada yang lamat-lamat terdengar menyayat.
Aroma kamboja menyengat ruangan. Ini adalah tugas besar yang harus terlaksana.
Upaya ini harus berhasil, Kanjeng Sinuhun harus bisa menyelamatkan pantai
pesisir utara dari tangan serakah Belanda. Dan demi itulah aku berada di sini.
Di garis depan. Pesisir utara adalah tanah air tempat segala cintaku bermula.
Apa pun bisa terjadi hari ini. Senjata yang kusemat ini akan menjadi bekal
ketika semua harus berakhir tak sesuai rencana. Tak ada lagi permainan. Peluru
pun siap ditembakkan. Aku harus mengasah kesabaran. Inilah harga mahal untuk
kemerdekaan.
Panji-panji perang tegak berjajar di tepi
ruangan. Semoga kumpenimerah itu
tak peduli makna panji-panji ini. Aku tersentak. Benar-benar kurang ajar cindhil raksasa
ini. Mereka duduk sama tinggi dengan Kanjeng Sinuhun! Kalau bukan demi tugas
ini pasti sudah kugorok leher mereka yang gendut berlipat itu dengan cundrik. Tapi aku sadar, kesombongan mereka memang harus ditaklukkan. Dan
untuk itulah aku berada di sini. Mengelabui makhluk-makhluk merah itu dan
menanggalkan keserakahan mereka.
Lembut suara gamelan memenuhi ruangan. Gaungnya
membawa siapa saja pada bayangan surga. Dadaku berdegup kencang. Akankah
Serimpi Sangopati ini benar-benar menjadi jalan kematian? Aku menghayati alunan
lembut itu. senyum manis harus segera kurekahkan. Senyum yang melambangkan api
yang beterbangan dalam diri manusia. Keserakahan dan kesombongan mereka harus
ditumbangkan. Kini aku tahu mengapa aku harus merias diri sedemikian rupa untuk
tarian ini. Karena itulah satu-satunya hal yang dapat menjadi pembeda. Aku
harus bisa melepas diriku sendiri dan benar-benar menjadi penari. Pupur tebal
ini bahkan mengelabui diriku sendiri. Mungkin juga akan mengelabui mautku. Juga
parakumpeni itu.
Mereka tak boleh tahu arti semua ini. Mereka tak boleh tahu siapa aku, anggota
pasukan telik
sandhi yang
biasa menyusup ke sarang mereka.
Gayatri menangkap keresahanku dengan siaga.
Dialah yang menjadi angin dalam pementasan ini. Serimpi Sangopati. Drama
sederhana tentang pertarungan. Sebuah peperangan yang dilakukan dalam gerak
halus gemulai swargaloka. Drama pertarungan manusia menuju mimpi sebelum
menghadapi kematian.
Dengung gong lembut bergema membawa angan ke
dunia yang tak terjamah. Dunia tanpa bentuk Serimpi Sangopati. Benar nasihat
Mbah Yayi, biarkan musik membawa dirimu menari. Aku mengikuti arus itu, alunan
yang mengerakkan raga begitu saja. Aku hanyut, menerbangkan para kumpeni ke alam
mimpi.
Api, tanah, air dan angin dalam tarian ini
menembus ruang mata parakumpeni yang
menganga larut dalam kelembutan. Gerak agung ini pun menyihirku. Berkali-kali
takjub mataku menyaksikan cindhe
kembang ungu tua
yang kami kenakan bermekaran. Di ambang cahaya yang semakin temaram,
kembang-kembang itu merekah segar. Mereka hidup, menawarkan mimpi ungu surgawi
dalam balutan perang berselubung gemulai tari.
Arak pun mengisi ruangan. Inilah hidup yang
sebenarnya, mampir
ngombe. Dan inilah hidup yang sebenarnya bagi kami, panggung halus yang
mencengkeram tulang belakang. Kami akan pertahankan tanah kelahiran kami. Cindhil merah itu
terus menenggak arak ketan ke mulut mereka yang lebar. Beberapa kali roncean tiba dhadhatersibak, menebarkan wangi yang gaib. Aroma
kematian. Aku menggigil dalam tarian. Musik bergelombang pelan. Angin berembus
dingin menerbangkan harum melati, kantil dan kamboja, mengalahkan aroma kecut
ragi ketan di cawan-cawan yang tak henti mereka reguk.
Ketika gamelan menaikkan dan mempercepat bunyi,
tubuhku mulai mengkilap oleh keringat. Gerak gemulai ini menghabiskan tenaga
yang setara dengan seratus kali tikaman belati. Tubuhku duduk, berdiri dan
berputar perlahan seperti api yang tenang membakar. Seperti angin jahat yang perlahan
menerbangkan nafsu duniawi, seperti menggali tanah sebelum mengubur diri
sendiri, seperti berenang melawan arus seribu pusar air di kedalaman. Tubuhku
lelah, gamelan sendu terus mengalun.
Kukibarkan sampir putih hingga jatuh ke
pangkuan. Sampir putih yang menjadi ketulusanku mengabdi pada negeri ini. Aku
mengatur nafas menolak lelah, tak sedetik pun aku boleh lengah. Aku terus
menari.
Mata para kumpeni itu mulai memerah. Hanya cawan arak dan tuak itulah yang
mengalihkan pandangan mereka dari pentas. Selebihnya, mata itu menatap kami
dari kepala hingga ujung kaki. Jemparing,
jebeng, pistol
dan cundrik tersimpan rapi di lipatan kain kami. Kami harus terus bersiaga.
Sesekali senjata-senjata itu tergenggam dalam adegan perang dalam tarian, dan
lagi-lagi kami harus menahan diri dari kepungan mata laknat kumpeni. Kami
harus bisa mengelabuikumpeni dengan
siasat ini.
Para kumpeni dan Kanjeng Sinuhun telah membahas perjanjian. Perjanjian perihal
kedudukan pantai pesisir utara dan hutan-hutan jati di sekitarnya. Kupasang
telinga dan kusiagakan mata. Arak dan tuak sudah bekerja. Suasana mulai
gempita. Para kumpeni tertawa-tawa. Bau keringat mereka menguar ke udara. Bacin, kecut,
seperti aroma keju campur cerutu. Waktu berjalan lamban. Aku yakin tak ada yang
sia-sia. Aku percaya pada rencana yang telah dititahkan Kanjeng Sinuhun.
Gamelan melantun sunyi. Sesaat sunyi mencekam,
kawanan butobule itu
pun menandatangani kertas perjanjian. Cawak tuak kosong berserakan. Kanjeng
Sinuhun mengerdipkan mata pada niyaga. Gamelan
kembali menggema. Sesekali tawa mereka meledak memenuhi ruangan. Kanjeng
Sinuhun tersenyum. Cita-cita kami telah tercapai. Kami berhasil menaklukkan
mereka dalam perang yang gemulai dan tanpa pertumpahan darah. Pertunjukan usai.
Kami bersimpuh duduk tegak takzim di pinggir ruangan, mengatur napas lelah agar
tak terdengar. Letih luar biasa. Inilah sebenarnya pertarungan kesatria
perempuan.
Kanjeng Sinuhun telah menyiapkan kereta kencana
dengan dua kuda putih di halaman. Sambil tertawa mereka berjalan sempoyongan,
bersender di saka guru pendopo. Tubuh mereka doyong hampir rubuh. Beberapa prajurit jaga
membantu mereka memasuki kereta. Mereka menyanyikan lagu berbahasa Belanda
dengan sumbang. Kanjeng Sinuhun berjalan ke depan, melepas tamu-tamu hingga hilang
dari pandangan.
RARA Ireng membawa kudanya berlari menempuhi
riak-riak ombak di sepanjang pantai utara. Ia berhenti di ambang pantai.
Dituntunnya Ireng, kudanya yang hitam mengkilat gagah berani. Berdua mereka
berjalan beriringan di sepanjang pantai. Ditatapnya pasir pantai yang lolos
dari cengkeraman kaum kumpeni. Inilah
pesisir yang ia pertahankan dengan gemulai pusaka agung tarian perang beberapa
bulan yang lalu agar tak jatuh ke tangan penjajah.
Ditatapnya bulan sabit yang menghias langit.
Sesaat lagi fajar merah akan merekahkan pantai. Ia akan menangkupkan telapak
tangan untuk bersemadi. Dari arah selatan terdengar derap-derap kuda melaju.
Ditajamkannya pandangan dan pendengaran. Gerombolan kuda itu tak berbendera,
tak berpanji. Alis hitamnya segera menaut ketika matanya menangkap para
penunggang kuda yang melaju ke arahnya. Seketika dicabutnya cundrik dari
lipatan bajunya. Cundrikhadiah
dari Kanjeng Sinuhun setelah pementasan tari serimpi itu. Ia tahu,
makhluk-makhluk serakah itu akan mengkhianati perjanjian.
Rumah
Ladam,
Januari
2014
Catatan
Gethek: rakit
dari bambu. Bokor
mengkurep: jenis sanggulan rambut.Telik sandhi: regu mata-mata. Abdi dalem: pegawai istana. Niyaga: penabuh
gamelan. Cindhil: anak
tikus yang masih merah. Cundrik: keris kecil. Cindhe kembang: salah satu jenis motif batik. Mampir ngombe: mampir minum, falsafah hidup orang jawa
memahami hakikat hidup di dunia. Tiba
dhadha: roncean kembang melati yang biasanya digunakan para pengantin,
disampirkan di bagian samping dada. Jemparing: panah. Jebeng: tombak pendek. Buto: raksasa
jahat. Saka guru: tiang
bangunan.
Karisma
Fahmi Y
Lahir di
kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Ia tinggal di Solo.
sumber lakonhidup
Negeriku Sakit
Posted by Memoar Pena on Jumat, 18 April 2014
Negeriku izinkan sang pujangga tanpa nama bercerita
sepenggal kata, kalimat, atau bahkan bait perbait
syair; diantara gemuruhnya politik tanpa etik
Negeri ini tengah sakit, keadilan dihargai dengan
duit
Kepala manusia dihargai dengan duit , bahkan lebih
murah dari harga kepala sapi
Kekuasaan dengan duit
Kebijkana dengan duit
Negeriku kapan kau bangkit?
Sajak Untuk Fitri
Posted by Memoar Pena on Rabu, 16 April 2014
Sajak ini aku torehkan dalam kelam malam ini tentang diriku
Dipaersimpangan jalan itu, alfa; kabut mencekam
Hingga menorehklan luka-luka tanpa darah
Tak ada apa
Namun yang ada hanya diam;
Kau antarkan aku pada rambu-rambu lalu lintas yang tak jelas
Tapi kau tahu kan fitri
Dalam kegelisahan yang selalu menggelitik setiap selang waktu
Meronta ronta dalam biur nafasku
Hingga angin malam datang mebawaku kelembah yang aku tak pernah
menegenalnya
tak hany itu fitri
cinta yang kau tancapkan di persimpangan jalan dan rerontokan daun
itu
menjelma dalam fatamorgana, silau yang aku rasa
Ada apa ini fitri?
Apakah ini pertanda tentang cinta haru biru
Ataukah ini alif dan ba’
menunggu datangnya ya’ hingga wassalam
Ataukah ini akan
mengantarkan kita kepusaran bumi
Coba lihatlah aku fitri, lihatlah aku
malam ini aku akan lampiaskan nafsu cinta yang kian
mengiang-ngiang
dalam setiap desahan nafas serta tarian wirid cintaku
hingga akhir ini kau hadir untukku
terima kasih fitri
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)