Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Kutunggu Kau



berita malam menghembuskan angin segar
sedang debur ombak berdebur-mendebur-hingga bermuara
sudah sekian lama sketsa tentang keabadian dileburkan oleh hakikatnya sendiri
sudah bertahun-tahun bahkan berabad-abad dihancurkan diguncang keabadiannya sendiri
biur, blur, semuanya bercampur hingga babak belur di rumah tua

malam yang kabut, tengah kusebut engkau di peraduan
namun rembulan telang menyumbingkan bibirnya
bintangpun telah menutup matanya hingga lima puluh cente
masih saja ia melingkar berputar tak bermuara
akhirnya ku tunggu kau di istana kepalsuan

Cangkarman, 01 April 2016.



OH




tuhan telah mati dibunuh tercabik-cabik oleh demokrasi
ulama telah sirna dijamah dengan durjana
agama telah dinodai, dikepung, lalu dihabisi secara berjamaah
negara dipecundangi dengan berbagai macam cara; rada membela dengan jiwa raga oh malah mengerogoti hingga ke jantung dan hati
rakyat hanyalah bayi yang selalu diapusi
oh biadap engkau....durjana engkau....
kebusukan yang engkau bungkus dengan emas, bahkan mutiara, ,,,akan tercium dengan cara apapun, disaat itu pula akan ku cabik-cabik istanamu; berantakan hingga menjadi hutan belantara
biarkan...biarkan sekalipun negara ini hutan
kami hidup bebas, lepas oh tentram dengan suara-suara angin pagi dan malam,  goyangnya dedaunan dengan irama melodi kicauan burung, dan wiridan hewan-hewan
tata tentrem tata raharjo! sejak kapan kau didengungkan?
sampai detik ini kau hanya sebongkah nama yang tak jelas identitasmu
kau hanya cerita-cerita manis disela kepahitan yang aku ras
pahit..pahit..yang aku rasa
perjalanan ini tak pernah engkau sapa walau hanya mengetarkan jiwa sekedar membagi harapan walau hanya asa

Mutiara yang Hilang



Selaksa alam telah buta menutup mata
Menampakkan kekeringan; kekeringan imajinasi
Imajinasi itu telah kau borgol dengan ruang kehampaan
Hampa terasa; tanpa suara, gendrang, suling, serunyi yang berbunyi lembut mendayu menyejukkan hati
Kenapa kau terlalu memaksakan mendekap diri tanpa suara
Di luar ada keramaian penuh pernak pernik keindahan

Kenapa kau tega menutup imajinasi; padahal itu mutiara yang telah hilang; dilupkan banyak orang

Rindu



Ku bakar rinduku membara, berkobar
Tertampar petir
Tersayat pahat
Rinduku padamu mengharu biru
Biar angin mendesah membisik tentang aroma rindu yang dalam
Mekar, mewangi, bunga melati tertabur di altar sunyi
Oh rindu kian membelenggu biar terjawab dengan waktu
Sesekali mendayu diantara hutan-hutan belantara
Bahkan meraung ,,
Tak usah kau pikirkan tentang rindu itu

Biar bintang menangkap diantara sinar bulan

Lorong Pena



Terlau mudah kau berjalan lalu bersimpuh
Tak terbiasa mengenang sajak sisa pengembala
Tersimpuh lalu terkapar dalam imajinasi
Lorong-lorong sejarah telah tergores dengan pecahan-pecahan kaca
Tersayat dengan parang
Ternodai dengan bintik bahkan berlumuran darah
Oh yaboy
Memang kadaangkala pena tak setajam pedang
Tapi jihad ini telah makan banyak korban
Terhipnotis prosa demi prosa atau sajak demi sajak
Diksi; penyayat kidung ilalang

Bluuurrr,,,, sajak sejarah terekam di gubuk cinta

Enam Cerita (Cerpen Tempo)



BILA ada yang menceritakan padamu senja terindah yang pernah dilihatnya, dengan langit yang selalu kemerahan, dia pasti belum datang ke tempat kami. Senja terindah hanya ada di sini. Senja yang kuning keemasan, seolah madu lembut dan bening yang ditumpahkan ke langit hingga segala yang mengapung di permukaan air menjadi tampak kuning berkilauan. Senja yang tak hanya bening, tapi begitu hening. Selembar daun yang jatuh tak akan mengusik keheningannya. Angin sejuk selalu membiarkan daun-daun kelapa setenang bayang-bayang. 
Waname mengatakan pada saya, bahkan Tuhan pun selalu memilih tempat ini saat ingin menenangkan diri. Sejak kanak-kanak kami suka duduk berdua menikmati senja. “Keindahan tak pernah abadi,” kata Waname. “Ketidakabadiannya itulah yang membuatnya begitu berharga. Tataplah senja itu, Tikami. Rekam baik-baik, dan simpan dalam matamu.” Waname suka sekali berenang. Suara kecipak airnya terdengar begitu jerning hingga ke kejauhan teluk. Suatu hari Waname bersampan, dan tak pernah kembali. Padahal seminggu lagi ia akan melamarku dengan 50 ekor babi.
Di gereja, penduduk Otikara mendoakan arwahnya sembari berbisik-bisik tentang orang-orang yang menculik Waname. Pastilah mereka pasukan terlatih, yang menganggap Waname harus dilenyapkan karena selalu menghasut penduduk. Segalanya memang berubah sejak pabrik tambang berdiri tak jauh dari teluk. Keindahan memang tak pernah abadi. Bila suatu hari kau datang ke tempat kami, kau tak akan melihat senja yang kuning berkilauan itu lagi.
Tapi jangan kecewa. Bila beruntung, kau masih bisa melihat senja kuning berkilauan itu di mata seorang gadis buta yang setiap senja berdiri di tepi teluk. Namanya Tikami. Ia terus menyimpan senja itu dalam matanya. Ia satu-satunya yang melihat ketika Waname dihabisi. Pasukan terlatih itu telah merusak matanya.

Epicentrum, 2 Februari 2014
PENIUP SERULING GAIB
INGATLAH Peniup Seruling Gaib bila suatu malam kau mendengar suara seruling mengalun penuh kepedihan. Bisa jadi seorang yang paling kau cintai akan mati. Atau kau akan menderita selamanya karena kehilangan telinga.
Tak pernah ada yang melihat langsung Peniup Seruling Gaib itu. Orang-orang hanya menduga sosoknya yang serupa bayang-bayang api berkobar, yang meninggalkan jerit tangis berkepanjangan begitu suara seruling itu lenyap di kejauhan. “Tutup telingamu rapat-rapat, pegang daun telingamu kuat-kuat, bila kau tak ingin tersayat,” ibu-ibu langsung berkata pada anak-anak mereka setiap si Peniup Seruling Gaib lewat. Siapa pun yang tak tahan mendengar suara seruling itu akan mati mengenaskan. Bila pun hidup akan kehilangan telinga.
Ada cerita yang dipercaya: ia dulu seorang peniup seruling paling hebat di kota ini. Ia berhasil memikat semua perempuan dengan tiupan serulingnya. Siapa pun yang mendengar alunan serulingnya, akan jatuh cinta dan terus-menerus disesah kerinduan yang tak tertanggungkan. Termasuk Putri Raja yang jelita. Sudah pasti Raja murka mengetahui anaknya jatuh cinta pada seorang peniup seruling yang tak jelas kerjaannya selain sepanjang hari sepanjang malam berjalan keliling meniup seruling. Ia perintahkan prajurit menangkapnya.
Algojo punya gagasan brilian: cara terbaik menyiksa peniup seruling ialah dengan membuat tuli telinganya. “Dia memang akan masih bisa meniup seruling, tapi tak bisa lagi mendengar suara serulingnya sendiri. Pastilah peniup seruling akan menderita bila tak bisa mendengar suara seruling yang ditiupnya.” Algojo pun merusak telinga si Peniup Seruling. Mengiris dan memotong daun telinganya.
Mungkin Peniup Seruling Gaib itu muncul agar kau bisa memahami kemalangannya. Mungkin juga ia hanya ingin sekadar meminjam telinga; dengan memotong telingamu, supaya ia bisa mendengar lagi suara serulingnya.
Bila kau mendengar suara seruling tengah malam, peganglah telingamu erat-erat.

Jakarta, 22 Januari 2014
KISAH DUA BOCAH
BOCAH itu ingin sekali menuruni tangga yang seolah terus menerus melambai padanya. Bocah itu ingin sekali naik tangga yang bagai menyimpan langit luas di ujungnya. Tapi tak bisa.
“Jangan pernah turun ke tangga itu,” kata ibunya. “Kau hanya akan menjumpai kegelapan. Tempat hidup makhluk busuk yang akan menghisap kebahagiaanmu. Kau dengar suara-suara yang merayap di bawah itu?” Lalu bocah itu kembali mendengar jerit seorang anak yang disiksa sepanjang hari. “Kau akan dicabik-cabik seperti itu!”
“Jangan pernah berpikir untuk naik tangga itu,” kata ayahnya. “Di atas sana kau hanya akan merasakan kehampaan. Jiwamu akan dimangsa makhluk terkutuk yang tak pernah mengenal kegembiraan. Kau dengar suara yang melayang di loteng itu?” Bocah itu memang selalu mendengar suara ganjil yang menakutkan berjalan di atas kepalanya. “Iblis-iblis di atas sana akan mencacah-cacah kakimu.”
Ibu menatap bocah itu, yang menunduk ketakutan. Sebelum pergi dan menutup pintu kamar, ia pastikan kembali rantai yang mengikat tubuh anaknya telah terkunci kuat. Sebelum keluar kamar, ayah mengelus kepala bocah itu, yang diam bersandar memandangi kedua kakinya yang terpasung.
Terdengar langkah kaki menuruni tangga. Terdengar langkah kaki menaiki tangga. Sebentar tangga itu terlihat terang, seperti ada cahaya lampu dari pintu kamar yang perlahan terbuka. Kemudian kembali gelap. Kedua bocah itu mendengar dengus nafas busuk. Suara mengeram dalam kegelapan. Seperti ada iblis bersenggama.

Yogyakarta, 30 Januari 2014

PERMAINAN ANAK-ANAK
APA permainan paling menyenangkan semasa kanak-kanakmu? Ada permainan masa kecil yang kami sukai. Bukan gobak sodor, congklak, bola bekel atau petak umpet. Tapi memotong jari kelingking.
Ini permainan sederhana. Kami berkumpul, dan setiap anak harus bicara jujur. Bila kami menganggapnya berbohong, maka anak itu harus membuktikan bahwa ia tidak berbohong dengan memotong jari kelingkingnya. Dan memang, setiap kali kami memotong jari kami, jari itu tetap utuh. Hidup tanpa kebohongan memang menyenangkan. Percayalah, kebohongan jauh lebih menakutkan dari kematian.
Biarkan mereka menganggap kita hina, terbuang dan hidup sebagai budak kegelapan, tapi jangan pernah sekali-kali berbohong. Nasihat seperti itu membuat kami bahagia, meski dikucilkan. Ada tembok mengelilingi tempat tinggal kami, yang tak boleh kami melewatinya. Kami hanya berani muncul malam hari ketika kegelapan membuat lembah ini menjadi semakin menakutkan: pohon-pohon tua dan angker, dengan sulur seperti usus berjuntaian, bayangan nisan dan pekuburan yang terlihat pucat. Hanya iblis dan orang-orang bermasalah yang nekat ke sini. Mereka mengendap-endap membuang mayat atau janin, lalu segera bergegas.
Maka kami heran ketika melihat ada gadis kecil berjalan sendirian. Ia mungkin anak kampung seberang sungai yang tersesat. Atau mungkin ia mau mencuri buah mangga di pohon dekat gerbang pemakaman. Buahnya memang dikenal sangat manis. Ia tak kaget ketika kamu memergokinya. Ia bilang tak hendak mencuri mangga. Kami tak percaya. “Berani potong jari kalau saya bohong!” katanya.
Kami pun mengajaknya bermain. Kami duduk melingkar. Ia mengulurkan tangannya, terus meyakinkan kami bahwa ia tak berbohong. Begitu tenang ia memotong kelingkingnya. Kami menjerit melihat jari itu berdarah, dan langsung lari ketakutan.
Aku, yang sejak tadi sembunyi di pohon besar, memperhatikan anak itu. Aku mengenalnya. Ia anak tukang sulap yang tinggal di desa sebelah. Pastilah ia telah diajari trik kecil itu. Ia memungut jarinya yang putus.
Pelan-pelan dari belakang kujulurkan tanganku yang rusak dan hitam, ke lehernya.

VIN+ Jakarta, 31 Januari 2014
INSOMNIA
KANTUK adalah kutukan. Tidur adalah ancaman. Ia tak pernah lagi merasa tenang setiap matanya hendak terpejam sejak istri dan dua anaknya mati mengenaskan digorok dan dibacok rampok. Ia yang sedang di luar kota ditelepon tetangga, dan dalam bus matanya terus terjaga selama enam belas jam perjalanan pulang. Kepalanya penuh jeritan anaknya. Bahkan setelah dua hari penguburan masih saja ia mendengar jeritan itu. Ia terus melihat darah menggenangi lantai rumah. Sepanjang malam ia terus berjaga, duduk di kursi menatap pintu rumah, karena yakin para perampok itu akan datang lagi untuk membunuhnya. Pisau belati selalu tak jauh dari jangkauannya.
Kawan dan rekan sekantor menasihatinya untuk istirahat. Kamu sudah seperti mayat hidup, kata mereka. Tidurlah.
Tapi ia tak mau menyerah, meski tubuh telah begitu lelah. Tetap tak mau takluk oleh kantuk. Bergelas-gelas kopi. Segala obat yang bisa membuatnya tetap terjaga. Lampu selalu ia nyalakan. Atau ia pergi keluyuran menyusuri jalanan agar tak bosan. Belati terselip di pinggang. Di ujung gang seseorang terlihat berdiri menghadang. Ia bersiap menyerang. Ternyata itu sebuah tiang. Kota telah penuh bandit. Setiap saat para pembunuh itu akan menyerangnya. Sebelum bandit-bandit itu lenyap, tidur adalah neraka. Sebuah bayangan berkelebat. Ia segera mengejarnya. Tak ada siapa-siapa.
Berminggu-minggu tak tidur telah membuatnya menjadi makhluk kumal dengan mata merah cekung, hingga siapa pun tak merasa nyaman di dekatnya. Tapi ia sudah mulai terbiasa sendirian. Mengurung diri dalam kamar bersama kecemasannya. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Dan para kenalan mulai melupakannya. Sampai tetangga yang mencium bau busuk segera menelepon polisi.
Ia ditemukan mati meringkuk dalam kelopak matanya.

Hotel Haris, 4 Februari 2014
PENARI SENJA
IBUKU seorang penari, ia bercerita. Aku ingat, saat aku berusia 5 tahun, ibu mulai mengajariku menari, di pendopo rumah. Aku selalu tak pernah merasa mampu menari sebagus ibu. Tubuhnya mengalir lembut, begitu halus, seakan bergerak mengikuti angin. Aku selalu merasakan jiwa ibulah yang menari. Bahkan ketika tubuh ibu hanya berdiri dengan selendang di tangan, ia seperti tengah menarikan yang tak bisa kulihat: semesta seakan mengitarinya. Aku seperti mendengar gesekan bintang-bintang nun jauh di kegelapan.
Tak ada penari sebaik ibu. Setidaknya di kampungku. Ibu satu-satunya penari yang paling dikagumi. Ia diundang menari di banyak acara. Bahkan ketika Presiden Sukarno datang ke kota kabupaten, ibu menari di hadapannya. Sebulan setelah itu ibu ditangkap. Ia sedang mengajariku menari, bersama puluhan anak lain, ketika empat tentara datang, dan langsung menyeretnya.Ibu orang yang berbahaya begitu kudengar kemudian setelah aku dewasa. Aku sama sekali tak mengerti, kenapa seorang penari seperti ibu yang begitu lembut bisa dianggap membahayakan negara.
Aku tak pernah bertemu ibu lagi. Mungkin ia mati disiksa di penjara. Tapi aku merasakan ibu dalam jiwa dan tubuhku. Ibu seolah ada dalam diriku: menuntunku untuk menari. Sering tengah malam aku tiba-tiba terbangun dan menari begitu saja. Tubuhku menari meski pun aku tak memaksudkannya menari. Kamu menari sebagus ibumu, kawan-kawan sering berkomentar. Padahal aku sendiri selalu merasa kalau aku tak pernah bisa menari sebagus ibu. Jangankan menari sebagus ibu, menari dangdut yang acak-adut pun rasanya aku tak bagus-bagus amat. Tapi hidup memaksaku terus menari.
Dan ia pun perlahan mulai menari di depanku. Telanjang.
Begitulah, setiap senja aku memandangi patung di depan gedung itu. Aku suka sekali menikmati tariannya yang begitu mempesona. Tentu saja, aku selalu diusir satpam setiap kali berlama-lama berdiri di dekat patung itu. Orang gila semacamku sudah pasti mengganggu pemandangan. Apalagi ketika patung itu menari setiap senja. Dan orang-orang kantoran yang lalu-lalang, berhenti sejenak memandanginya.

Jakarta, 21 Januari 2014

Penulis: Agus Noor; Buku-buku Agus Noor yang akan terbit adalah Kitab Ranjang (novel) danCerita buat Para Kekasih (kumpulan cerita pendek).
sumber: Lakon Hidup

Orang Alim dari Klampis (Cerpen Republika))




Cerpen Dadang Ari Murtono (Republika, 23 Februari 2014)
TIDAK ada alasan yang mendasari kepulangan terburu-buru Sakti kali ini selain untuk menemui Gus Malik, orang alim dari Klampis, dan menyampaikan pesan yang dititipkan sesosok makhluk bersayap pada malam Jumat kemarin, ini juga sesuai ia berwirid sepanjang Kamis. ”Gus, makhluk itu mengaku bernama Jibril. Dan ia mengatakan bahwa Gus sebenar-benarnya ahli neraka!” Sakti bercerita dengan mimik ketakutan. Tapi, ketakutan Sakti tak ada seujung kuku kegetiran Gus Malik. Wajah orang alim itu dengan segera berubah. Melebihi pucat pasi seonggok mayat. Badannya gemetar dan apa yang kemudian keluar dari mulutnya adalah kalimat samar yang terbata-bata. 
Orang-orang mengenal Sakti sebagai santri yang tak pernah berdusta. Segala tindak-tanduk dan ucapannya adalah kebenaran. Bertahun-tahun Sakti nyantri di sebuah pesantren di daerah Jombang, Jawa Timur. Sekali pun jarak antara Klampis yang berada dalam wilayah Surabaya dengan Jombang hanya sekitar 100 kilometer, Sakti hanya pulang setahun sekali ketika Idul Fitri. ”Aku belajar sungguh-sungguh di sana dan tak ingin ada waktu yang terbuang untuk sesuatu yang kurang penting,“ katanya bila ada yang bertanya kenapa ia pulang sejarang itu.
”Dan, orang tuaku bahagia dengan keputusanku. Mereka ingin aku pintar menguasai ilmu agama dan kelak bisa jadi orang alim, seperti Gus Malik,“ lanjutnya. Kali ini adalah untuk pertama kalinya Sakti pulang tidak pada hari raya Idul Fitri. Dan kali ini pula, untuk pertama kalinya ia ingin menjadi orang alim yang tidak seperti Gus Malik.
Kabar yang dibawa Sakti dengan cepat menyebar dan membikin gempar seantero Klampis. Publik semakin bertanya-tanya, bagaimana mungkin orang sealim Gus malik bisa menjadi ahli neraka. Padahal, sosok paruh baya itu sudah dua kali naik haji, tiga kali umrah, dan tak pernah melewatkan sebagai imam shalat lima waktu di masjid serta kerap khutbah Jumat, bahkan tampak bersih dari maksiat. Rumor itu pun ramai terdengar di warung kopi, sekolah, masjid, dan berbagai tempat.
Sebagian orang pun bergumam, ”Bila Gus Malik saja masuk neraka, bagaimana kita yang membaca Alquran saja masih patah-patah?“ ”Jangan-jangan Sakti berbohong,“ kata sekelompok warga. Dugaan buruk mengenai Sakti mulai terbentuk. ”Tapi kita tahu, sejak kecil Sakti tidak pernah mengetahui ada kebohongan darinya,“ beberapa orang yang membela Sakti mulai membikin kubu. Dan, pendukung Sakti mulai mengembangkan prasangka, ”Jangan-jangan Gus Malik menyembunyikan sesuatu yang tidak baik.“
Sesungguhnya, Gus Malik selama ini tidak pernah menyembunyikan sesuatu yang tidak baik seperti dugaan kubu Sakti. Dan, Sakti tidak berbohong seperti prasangka pendukung Gus Malik. Sesosok makhluk bersayap yang sekujur tubuhnya bercahaya memang mendatangi Sakti malam itu. awalnya, Sakti mengira ia tengah bermimpi. Tapi faktanya, ia masih dalam kondisi terjaga dan merasakan cubitan di tangannya.
Makhluk itu benar-benar nyata dan meminta Sakti memperingatkan Gus Malik. ”Sebanyak dan sekhusyuk apa pun ia beribadah, pada akhirnya ia tetap akan menghuni neraka,“ kata makhluk yang mengaku jibril tersebut. Sakti, setelah berhasil menenangkan keterkejutannya bertanya, ”Bagaimana bisa?“ Alih-alih menjawab pertanyaan Sakti, makhluk itu malah mengepakkan sayap, dan perlahan, tubuh yang mulai terangkat itu kian samar, menembus atap rumah, lalu sama sekali lenyap dari pandangan Sakti. Sakti menggigil. Suhu ruangan tiba-tiba merosot tajam. Semalaman ia tidak bisa tidur. Dan, keesokan harinya, seusai shalat Subuh, ia bergegas mencegat bis jurusan Surabaya menuju kediaman Gus Malik.
Banyak perubahan pada diri Gus Malik setelah Sakti menyampaikan kabar itu. Sakti kembali ke pesantren keesokan harinya dan ia tidak mengetahui perubahan-perubahan pada diri Gus Malik tersebut. Selama di pesantren, entah kenapa tidak ada yang mengirimkan kabar kepadanya perihal Gus Malik. Dan, baru pada Idul Fitri tahun itu, ia kembali pulang dan mendapati bukan Gus Malik yang menjadi khatib sekaligus imam shalat Id seperti tahun-tahun sebelumnya.
Dari orang tuanya, Sakti mendapat cerita bahwa Gus Malik sudah tidak pernah lagi pergi ke masjid, tidak pernah mengaji, tidak pernah ikut sima’an atau tadarus Alquran, dan pada Ramadhan tahun itu itu, tidak sehari pun berpuasa. ”Percuma, toh aku akan tetap masuk neraka,“ jawab Gus Malik bila ada yang bertanya alasan perubahannya. Dan, yang lebih mengejutkan Sakti adalah Gus Malik telah menjadi pemabuk, ahli judi, dan kerap berkunjung ke lokalisasi Doli. Istri dan anak-anak Gus Malik yang malu dengan perubahan Gus Malik pulang ke rumah mertua Gus Malik di daerah Mojokerto.
”Banyak orang yang menyalahkanmu atas perubahan sikap Gus Malik,“ ujar orang tua Sakti. ”Tapi, aku mengatakan hal yang sebenarnya. Dan, karena aku menyayangi Gus Malik maka aku menyampikan kabar itu agar beliau bisa menyiapkan dirinya,“ ujar Sakti membela diri.
Gus Malik meninggal tiga tahun setelahnya ketika tengah berkencan dengan seorang pelacur di Doli. ”Over dosis obat kuat,“ terang polisi yang melakukan penyelidikan. Dan, sepuluh bulan kemudian, Sakti terkena penyakit perut yang parah. Ia dilarikan ke rumah sakit oleh kawan-kawannya sesama santri di pondok pesantren. Tapi upaya penyelamatan itu terlambat. ”Sakitnya sudah terlampau parah. Kami tak bisa berbuat apa-apa,“ jelas dokter yang menangani Sakti. Hari itu pula orang tua Sakti bergegas ke Jombang, tak lama usai mendapat kabar dari kiai di pesantren Sakti. Sepasang orang tua itu menangis mendapat Sakti yang sudah teramat kurus tubuhnya. Keduanya membacakan surah  Yaasin di telinga Sakti lantas berdoa, ”Gusti, bila anak kami masih Kau kehendaki hidup maka cepatkanlah kesembuhannya, namun bila tidak, maka lekaskanlah mau menjemputnya agar ia tak tersiksa.“
Orang tua Sakti tidak tahu dan tidak bisa melihat bahwa ketika mereka tengah membaca surah ke-36 Alquran itu dan berdoa, sesosok makhluk bersayap dengan tubuh bercahaya mendatangi Sakti. Sakti ingat, makhluk itulah yang dulu menemuinya dan mengaku bernama Jibril. Dan kini, makhluk itu berkata, ”Bersujudlah padaku sekali saja dan aku akan menyembuhkan sakitmu, menyelamatkanmu dari maut.“ Makhluk itu menyeringai. Dan kali ini, Sakti melihat sepasang taring mencuat. Dan alangkah merahnya mata makhluk itu. []

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto. Sebagian tulisannya pernah terbit di beberapa surat kabar. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam Kelompok Suka Jalan.
sumber: lakonhidup