Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
berita malam menghembuskan angin segar
sedang debur ombak berdebur-mendebur-hingga bermuara
sudah sekian lama sketsa tentang keabadian dileburkan oleh hakikatnya sendiri
sudah bertahun-tahun bahkan berabad-abad dihancurkan diguncang keabadiannya sendiri
biur, blur, semuanya bercampur hingga babak belur di rumah tua
malam yang kabut, tengah kusebut engkau di peraduan
namun rembulan telang menyumbingkan bibirnya
bintangpun telah menutup matanya hingga lima puluh cente
masih saja ia melingkar berputar tak bermuara
akhirnya ku tunggu kau di istana kepalsuan
Cangkarman, 01 April 2016.
tuhan telah mati dibunuh tercabik-cabik oleh demokrasi
ulama telah sirna dijamah dengan durjana
agama telah dinodai, dikepung, lalu dihabisi secara berjamaah
negara dipecundangi dengan berbagai macam cara; rada membela dengan jiwa raga oh malah mengerogoti hingga ke jantung dan hati
rakyat hanyalah bayi yang selalu diapusi
oh biadap engkau....durjana engkau....
kebusukan yang engkau bungkus dengan emas, bahkan mutiara, ,,,akan tercium dengan cara apapun, disaat itu pula akan ku cabik-cabik istanamu; berantakan hingga menjadi hutan belantara
biarkan...biarkan sekalipun negara ini hutan
kami hidup bebas, lepas oh tentram dengan suara-suara angin pagi dan malam, goyangnya dedaunan dengan irama melodi kicauan burung, dan wiridan hewan-hewan
tata tentrem tata raharjo! sejak kapan kau didengungkan?
sampai detik ini kau hanya sebongkah nama yang tak jelas identitasmu
kau hanya cerita-cerita manis disela kepahitan yang aku ras
pahit..pahit..yang aku rasa
perjalanan ini tak pernah engkau sapa walau hanya mengetarkan jiwa sekedar membagi harapan walau hanya asa
PERMAINAN ANAK-ANAK
Kutunggu Kau
Posted by Memoar Pena on Sabtu, 02 April 2016
berita malam menghembuskan angin segar
sedang debur ombak berdebur-mendebur-hingga bermuara
sudah sekian lama sketsa tentang keabadian dileburkan oleh hakikatnya sendiri
sudah bertahun-tahun bahkan berabad-abad dihancurkan diguncang keabadiannya sendiri
biur, blur, semuanya bercampur hingga babak belur di rumah tua
malam yang kabut, tengah kusebut engkau di peraduan
namun rembulan telang menyumbingkan bibirnya
bintangpun telah menutup matanya hingga lima puluh cente
masih saja ia melingkar berputar tak bermuara
akhirnya ku tunggu kau di istana kepalsuan
Cangkarman, 01 April 2016.
OH
Posted by Memoar Pena on Sabtu, 31 Mei 2014
tuhan telah mati dibunuh tercabik-cabik oleh demokrasi
ulama telah sirna dijamah dengan durjana
agama telah dinodai, dikepung, lalu dihabisi secara berjamaah
negara dipecundangi dengan berbagai macam cara; rada membela dengan jiwa raga oh malah mengerogoti hingga ke jantung dan hati
rakyat hanyalah bayi yang selalu diapusi
oh biadap engkau....durjana engkau....
kebusukan yang engkau bungkus dengan emas, bahkan mutiara, ,,,akan tercium dengan cara apapun, disaat itu pula akan ku cabik-cabik istanamu; berantakan hingga menjadi hutan belantara
biarkan...biarkan sekalipun negara ini hutan
kami hidup bebas, lepas oh tentram dengan suara-suara angin pagi dan malam, goyangnya dedaunan dengan irama melodi kicauan burung, dan wiridan hewan-hewan
tata tentrem tata raharjo! sejak kapan kau didengungkan?
sampai detik ini kau hanya sebongkah nama yang tak jelas identitasmu
kau hanya cerita-cerita manis disela kepahitan yang aku ras
pahit..pahit..yang aku rasa
perjalanan ini tak pernah engkau sapa walau hanya mengetarkan jiwa sekedar membagi harapan walau hanya asa
Mutiara yang Hilang
Posted by Memoar Pena on Rabu, 28 Mei 2014
Selaksa alam telah buta menutup mata
Menampakkan kekeringan; kekeringan imajinasi
Imajinasi itu telah kau borgol dengan ruang kehampaan
Hampa terasa; tanpa suara, gendrang, suling, serunyi yang
berbunyi lembut mendayu menyejukkan hati
Kenapa kau terlalu memaksakan mendekap diri tanpa suara
Di luar ada keramaian penuh pernak pernik keindahan
Kenapa kau tega menutup imajinasi; padahal itu mutiara yang
telah hilang; dilupkan banyak orang
Rindu
Posted by Memoar Pena on
Ku bakar rinduku membara, berkobar
Tertampar petir
Tersayat pahat
Rinduku padamu mengharu biru
Biar angin mendesah membisik tentang aroma rindu yang dalam
Mekar, mewangi, bunga melati tertabur di altar sunyi
Oh rindu kian membelenggu biar terjawab dengan waktu
Sesekali mendayu diantara hutan-hutan belantara
Bahkan meraung ,,
Tak usah kau pikirkan tentang rindu itu
Biar bintang menangkap diantara sinar bulan
Lorong Pena
Posted by Memoar Pena on Selasa, 27 Mei 2014
Terlau mudah kau berjalan lalu bersimpuh
Tak terbiasa mengenang sajak sisa pengembala
Tersimpuh lalu terkapar dalam imajinasi
Lorong-lorong sejarah telah tergores dengan
pecahan-pecahan kaca
Tersayat dengan parang
Ternodai dengan bintik bahkan berlumuran darah
Oh yaboy
Memang kadaangkala pena tak setajam pedang
Tapi jihad ini telah makan banyak korban
Terhipnotis prosa demi prosa atau sajak demi
sajak
Diksi; penyayat kidung ilalang
Bluuurrr,,,, sajak sejarah terekam di gubuk
cinta
Enam Cerita (Cerpen Tempo)
Posted by Memoar Pena on Jumat, 23 Mei 2014
BILA ada
yang menceritakan padamu senja terindah yang pernah dilihatnya, dengan langit
yang selalu kemerahan, dia pasti belum datang ke tempat kami. Senja terindah
hanya ada di sini. Senja yang kuning keemasan, seolah madu lembut dan bening
yang ditumpahkan ke langit hingga segala yang mengapung di permukaan air
menjadi tampak kuning berkilauan. Senja yang tak hanya bening, tapi begitu
hening. Selembar daun yang jatuh tak akan mengusik keheningannya. Angin sejuk
selalu membiarkan daun-daun kelapa setenang bayang-bayang.
Waname mengatakan pada saya, bahkan Tuhan pun
selalu memilih tempat ini saat ingin menenangkan diri. Sejak kanak-kanak kami
suka duduk berdua menikmati senja. “Keindahan tak pernah abadi,” kata Waname.
“Ketidakabadiannya itulah yang membuatnya begitu berharga. Tataplah senja itu,
Tikami. Rekam baik-baik, dan simpan dalam matamu.” Waname suka sekali berenang.
Suara kecipak airnya terdengar begitu jerning hingga ke kejauhan teluk. Suatu
hari Waname bersampan, dan tak pernah kembali. Padahal seminggu lagi ia akan
melamarku dengan 50 ekor babi.
Di gereja, penduduk Otikara mendoakan arwahnya
sembari berbisik-bisik tentang orang-orang yang menculik Waname. Pastilah
mereka pasukan terlatih, yang menganggap Waname harus dilenyapkan karena selalu
menghasut penduduk. Segalanya memang berubah sejak pabrik tambang berdiri tak
jauh dari teluk. Keindahan memang tak pernah abadi. Bila suatu hari kau datang
ke tempat kami, kau tak akan melihat senja yang kuning berkilauan itu lagi.
Tapi jangan kecewa. Bila beruntung, kau masih
bisa melihat senja kuning berkilauan itu di mata seorang gadis buta yang setiap
senja berdiri di tepi teluk. Namanya Tikami. Ia terus menyimpan senja itu dalam
matanya. Ia satu-satunya yang melihat ketika Waname dihabisi. Pasukan terlatih
itu telah merusak matanya.
Epicentrum,
2 Februari 2014
PENIUP SERULING GAIB
INGATLAH Peniup Seruling Gaib bila suatu
malam kau mendengar suara seruling mengalun penuh kepedihan. Bisa jadi seorang
yang paling kau cintai akan mati. Atau kau akan menderita selamanya karena
kehilangan telinga.
Tak pernah ada yang melihat langsung Peniup
Seruling Gaib itu. Orang-orang hanya menduga sosoknya yang serupa bayang-bayang
api berkobar, yang meninggalkan jerit tangis berkepanjangan begitu suara
seruling itu lenyap di kejauhan. “Tutup telingamu rapat-rapat, pegang daun
telingamu kuat-kuat, bila kau tak ingin tersayat,” ibu-ibu langsung berkata
pada anak-anak mereka setiap si Peniup Seruling Gaib lewat. Siapa pun yang tak
tahan mendengar suara seruling itu akan mati mengenaskan. Bila pun hidup akan
kehilangan telinga.
Ada cerita yang dipercaya: ia dulu seorang
peniup seruling paling hebat di kota ini. Ia berhasil memikat semua perempuan
dengan tiupan serulingnya. Siapa pun yang mendengar alunan serulingnya, akan
jatuh cinta dan terus-menerus disesah kerinduan yang tak tertanggungkan.
Termasuk Putri Raja yang jelita. Sudah pasti Raja murka mengetahui anaknya
jatuh cinta pada seorang peniup seruling yang tak jelas kerjaannya selain
sepanjang hari sepanjang malam berjalan keliling meniup seruling. Ia
perintahkan prajurit menangkapnya.
Algojo punya gagasan brilian: cara terbaik
menyiksa peniup seruling ialah dengan membuat tuli telinganya. “Dia memang akan
masih bisa meniup seruling, tapi tak bisa lagi mendengar suara serulingnya
sendiri. Pastilah peniup seruling akan menderita bila tak bisa mendengar suara
seruling yang ditiupnya.” Algojo pun merusak telinga si Peniup Seruling.
Mengiris dan memotong daun telinganya.
Mungkin Peniup Seruling Gaib itu muncul agar kau
bisa memahami kemalangannya. Mungkin juga ia hanya ingin sekadar meminjam
telinga; dengan memotong telingamu, supaya ia bisa mendengar lagi suara
serulingnya.
Bila kau mendengar suara seruling tengah malam,
peganglah telingamu erat-erat.
Jakarta,
22 Januari 2014
KISAH DUA BOCAH
BOCAH itu ingin sekali menuruni tangga yang
seolah terus menerus melambai padanya. Bocah itu ingin sekali naik tangga yang
bagai menyimpan langit luas di ujungnya. Tapi tak bisa.
“Jangan pernah turun ke tangga itu,” kata
ibunya. “Kau hanya akan menjumpai kegelapan. Tempat hidup makhluk busuk yang
akan menghisap kebahagiaanmu. Kau dengar suara-suara yang merayap di bawah
itu?” Lalu bocah itu kembali mendengar jerit seorang anak yang disiksa
sepanjang hari. “Kau akan dicabik-cabik seperti itu!”
“Jangan pernah berpikir untuk naik tangga itu,”
kata ayahnya. “Di atas sana kau hanya akan merasakan kehampaan. Jiwamu akan
dimangsa makhluk terkutuk yang tak pernah mengenal kegembiraan. Kau dengar
suara yang melayang di loteng itu?” Bocah itu memang selalu mendengar suara
ganjil yang menakutkan berjalan di atas kepalanya. “Iblis-iblis di atas sana
akan mencacah-cacah kakimu.”
Ibu menatap bocah itu, yang menunduk ketakutan.
Sebelum pergi dan menutup pintu kamar, ia pastikan kembali rantai yang mengikat
tubuh anaknya telah terkunci kuat. Sebelum keluar kamar, ayah mengelus kepala
bocah itu, yang diam bersandar memandangi kedua kakinya yang terpasung.
Terdengar langkah kaki menuruni tangga.
Terdengar langkah kaki menaiki tangga. Sebentar tangga itu terlihat terang,
seperti ada cahaya lampu dari pintu kamar yang perlahan terbuka. Kemudian
kembali gelap. Kedua bocah itu mendengar dengus nafas busuk. Suara mengeram
dalam kegelapan. Seperti ada iblis bersenggama.
Yogyakarta,
30 Januari 2014
PERMAINAN ANAK-ANAK
APA permainan paling menyenangkan semasa
kanak-kanakmu? Ada permainan masa kecil yang kami sukai. Bukan gobak sodor,
congklak, bola bekel atau petak umpet. Tapi memotong jari kelingking.
Ini permainan sederhana. Kami berkumpul, dan
setiap anak harus bicara jujur. Bila kami menganggapnya berbohong, maka anak
itu harus membuktikan bahwa ia tidak berbohong dengan memotong jari
kelingkingnya. Dan memang, setiap kali kami memotong jari kami, jari itu tetap
utuh. Hidup tanpa kebohongan memang menyenangkan. Percayalah, kebohongan jauh
lebih menakutkan dari kematian.
Biarkan mereka menganggap
kita hina, terbuang dan hidup sebagai budak kegelapan, tapi jangan pernah
sekali-kali berbohong. Nasihat seperti itu membuat kami bahagia,
meski dikucilkan. Ada tembok mengelilingi tempat tinggal kami, yang tak boleh
kami melewatinya. Kami hanya berani muncul malam hari ketika kegelapan membuat
lembah ini menjadi semakin menakutkan: pohon-pohon tua dan angker, dengan sulur
seperti usus berjuntaian, bayangan nisan dan pekuburan yang terlihat pucat.
Hanya iblis dan orang-orang bermasalah yang nekat ke sini. Mereka
mengendap-endap membuang mayat atau janin, lalu segera bergegas.
Maka kami heran ketika melihat ada gadis kecil
berjalan sendirian. Ia mungkin anak kampung seberang sungai yang tersesat. Atau
mungkin ia mau mencuri buah mangga di pohon dekat gerbang pemakaman. Buahnya
memang dikenal sangat manis. Ia tak kaget ketika kamu memergokinya. Ia bilang
tak hendak mencuri mangga. Kami tak percaya. “Berani potong jari kalau saya
bohong!” katanya.
Kami pun mengajaknya bermain. Kami duduk
melingkar. Ia mengulurkan tangannya, terus meyakinkan kami bahwa ia tak
berbohong. Begitu tenang ia memotong kelingkingnya. Kami menjerit melihat jari
itu berdarah, dan langsung lari ketakutan.
Aku, yang sejak tadi sembunyi di pohon besar,
memperhatikan anak itu. Aku mengenalnya. Ia anak tukang sulap yang tinggal di
desa sebelah. Pastilah ia telah diajari trik kecil itu. Ia memungut jarinya
yang putus.
Pelan-pelan dari belakang kujulurkan tanganku
yang rusak dan hitam, ke lehernya.
VIN+
Jakarta, 31 Januari 2014
INSOMNIA
KANTUK adalah kutukan. Tidur adalah
ancaman. Ia tak pernah lagi merasa tenang setiap matanya hendak terpejam sejak
istri dan dua anaknya mati mengenaskan digorok dan dibacok rampok. Ia yang
sedang di luar kota ditelepon tetangga, dan dalam bus matanya terus terjaga
selama enam belas jam perjalanan pulang. Kepalanya penuh jeritan anaknya.
Bahkan setelah dua hari penguburan masih saja ia mendengar jeritan itu. Ia
terus melihat darah menggenangi lantai rumah. Sepanjang malam ia terus berjaga,
duduk di kursi menatap pintu rumah, karena yakin para perampok itu akan datang
lagi untuk membunuhnya. Pisau belati selalu tak jauh dari jangkauannya.
Kawan dan rekan sekantor menasihatinya untuk
istirahat. Kamu sudah seperti mayat hidup, kata mereka. Tidurlah.
Tapi ia tak mau menyerah, meski tubuh telah
begitu lelah. Tetap tak mau takluk oleh kantuk. Bergelas-gelas kopi. Segala
obat yang bisa membuatnya tetap terjaga. Lampu selalu ia nyalakan. Atau ia
pergi keluyuran menyusuri jalanan agar tak bosan. Belati terselip di pinggang.
Di ujung gang seseorang terlihat berdiri menghadang. Ia bersiap menyerang.
Ternyata itu sebuah tiang. Kota telah penuh bandit. Setiap saat para pembunuh
itu akan menyerangnya. Sebelum bandit-bandit itu lenyap, tidur adalah neraka.
Sebuah bayangan berkelebat. Ia segera mengejarnya. Tak ada siapa-siapa.
Berminggu-minggu tak tidur telah membuatnya
menjadi makhluk kumal dengan mata merah cekung, hingga siapa pun tak merasa
nyaman di dekatnya. Tapi ia sudah mulai terbiasa sendirian. Mengurung diri
dalam kamar bersama kecemasannya. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Dan para
kenalan mulai melupakannya. Sampai tetangga yang mencium bau busuk segera
menelepon polisi.
Ia ditemukan mati meringkuk dalam kelopak
matanya.
Hotel
Haris, 4 Februari 2014
PENARI SENJA
IBUKU seorang penari, ia bercerita. Aku
ingat, saat aku berusia 5 tahun, ibu mulai mengajariku menari, di pendopo
rumah. Aku selalu tak pernah merasa mampu menari sebagus ibu. Tubuhnya mengalir
lembut, begitu halus, seakan bergerak mengikuti angin. Aku selalu merasakan
jiwa ibulah yang menari. Bahkan ketika tubuh ibu hanya berdiri dengan selendang
di tangan, ia seperti tengah menarikan yang tak bisa kulihat: semesta seakan
mengitarinya. Aku seperti mendengar gesekan bintang-bintang nun jauh di
kegelapan.
Tak ada penari sebaik ibu. Setidaknya di
kampungku. Ibu satu-satunya penari yang paling dikagumi. Ia diundang menari di
banyak acara. Bahkan ketika Presiden Sukarno datang ke kota kabupaten, ibu
menari di hadapannya. Sebulan setelah itu ibu ditangkap. Ia sedang mengajariku
menari, bersama puluhan anak lain, ketika empat tentara datang, dan langsung menyeretnya.Ibu
orang yang berbahaya begitu kudengar kemudian setelah aku dewasa. Aku
sama sekali tak mengerti, kenapa seorang penari seperti ibu yang begitu lembut
bisa dianggap membahayakan negara.
Aku tak pernah bertemu ibu lagi. Mungkin ia mati
disiksa di penjara. Tapi aku merasakan ibu dalam jiwa dan tubuhku. Ibu seolah
ada dalam diriku: menuntunku untuk menari. Sering tengah malam aku tiba-tiba
terbangun dan menari begitu saja. Tubuhku menari meski pun aku tak
memaksudkannya menari. Kamu menari sebagus ibumu, kawan-kawan
sering berkomentar. Padahal aku sendiri selalu merasa kalau aku tak pernah bisa
menari sebagus ibu. Jangankan menari sebagus ibu, menari dangdut yang acak-adut
pun rasanya aku tak bagus-bagus amat. Tapi hidup memaksaku terus menari.
Dan ia pun perlahan mulai
menari di depanku. Telanjang.
Begitulah, setiap senja aku memandangi patung di
depan gedung itu. Aku suka sekali menikmati tariannya yang begitu mempesona.
Tentu saja, aku selalu diusir satpam setiap kali berlama-lama berdiri di dekat
patung itu. Orang gila semacamku sudah pasti mengganggu pemandangan. Apalagi
ketika patung itu menari setiap senja. Dan orang-orang kantoran yang
lalu-lalang, berhenti sejenak memandanginya.
Jakarta,
21 Januari 2014
Penulis: Agus Noor; Buku-buku Agus
Noor yang akan terbit adalah Kitab Ranjang (novel) danCerita
buat Para Kekasih (kumpulan cerita pendek).
sumber: Lakon Hidup
Orang Alim dari Klampis (Cerpen Republika))
Posted by Memoar Pena on Kamis, 22 Mei 2014
Cerpen Dadang Ari Murtono (Republika, 23
Februari 2014)
TIDAK ada alasan
yang mendasari kepulangan terburu-buru Sakti kali ini selain untuk menemui Gus
Malik, orang alim dari Klampis, dan menyampaikan pesan yang dititipkan sesosok makhluk
bersayap pada malam Jumat kemarin, ini juga sesuai ia berwirid sepanjang Kamis.
”Gus, makhluk itu mengaku bernama Jibril. Dan ia mengatakan bahwa Gus
sebenar-benarnya ahli neraka!” Sakti bercerita dengan mimik ketakutan. Tapi,
ketakutan Sakti tak ada seujung kuku kegetiran Gus Malik. Wajah orang alim itu
dengan segera berubah. Melebihi pucat pasi seonggok mayat. Badannya gemetar dan
apa yang kemudian keluar dari mulutnya adalah kalimat samar yang
terbata-bata.
Orang-orang mengenal Sakti sebagai santri yang tak pernah
berdusta. Segala tindak-tanduk dan ucapannya adalah kebenaran. Bertahun-tahun
Sakti nyantri di sebuah pesantren di daerah
Jombang, Jawa Timur. Sekali pun jarak antara Klampis yang berada dalam wilayah
Surabaya dengan Jombang hanya sekitar 100 kilometer, Sakti hanya pulang setahun
sekali ketika Idul Fitri. ”Aku belajar sungguh-sungguh di sana dan tak ingin
ada waktu yang terbuang untuk sesuatu yang kurang penting,“ katanya bila ada
yang bertanya kenapa ia pulang sejarang itu.
”Dan, orang tuaku bahagia dengan keputusanku. Mereka ingin aku
pintar menguasai ilmu agama dan kelak bisa jadi orang alim, seperti Gus Malik,“
lanjutnya. Kali ini adalah untuk pertama kalinya Sakti pulang tidak pada hari
raya Idul Fitri. Dan kali ini pula, untuk pertama kalinya ia ingin menjadi
orang alim yang tidak seperti Gus Malik.
Kabar yang dibawa Sakti dengan cepat menyebar dan membikin gempar
seantero Klampis. Publik semakin bertanya-tanya, bagaimana mungkin orang sealim
Gus malik bisa menjadi ahli neraka. Padahal, sosok paruh baya itu sudah dua
kali naik haji, tiga kali umrah, dan tak pernah melewatkan sebagai imam shalat
lima waktu di masjid serta kerap khutbah Jumat, bahkan tampak bersih dari
maksiat. Rumor itu pun ramai terdengar di warung kopi, sekolah, masjid, dan
berbagai tempat.
Sebagian orang pun bergumam, ”Bila Gus Malik saja masuk neraka,
bagaimana kita yang membaca Alquran saja masih patah-patah?“ ”Jangan-jangan
Sakti berbohong,“ kata sekelompok warga. Dugaan buruk mengenai Sakti mulai
terbentuk. ”Tapi kita tahu, sejak kecil Sakti tidak pernah mengetahui ada
kebohongan darinya,“ beberapa orang yang membela Sakti mulai membikin kubu.
Dan, pendukung Sakti mulai mengembangkan prasangka, ”Jangan-jangan Gus Malik
menyembunyikan sesuatu yang tidak baik.“
Sesungguhnya, Gus Malik selama ini tidak pernah menyembunyikan
sesuatu yang tidak baik seperti dugaan kubu Sakti. Dan, Sakti tidak berbohong
seperti prasangka pendukung Gus Malik. Sesosok makhluk bersayap yang sekujur
tubuhnya bercahaya memang mendatangi Sakti malam itu. awalnya, Sakti mengira ia
tengah bermimpi. Tapi faktanya, ia masih dalam kondisi terjaga dan merasakan
cubitan di tangannya.
Makhluk itu benar-benar nyata dan meminta Sakti memperingatkan Gus
Malik. ”Sebanyak dan sekhusyuk apa pun ia beribadah, pada akhirnya ia tetap
akan menghuni neraka,“ kata makhluk yang mengaku jibril tersebut. Sakti,
setelah berhasil menenangkan keterkejutannya bertanya, ”Bagaimana bisa?“
Alih-alih menjawab pertanyaan Sakti, makhluk itu malah mengepakkan sayap, dan
perlahan, tubuh yang mulai terangkat itu kian samar, menembus atap rumah, lalu
sama sekali lenyap dari pandangan Sakti. Sakti menggigil. Suhu ruangan
tiba-tiba merosot tajam. Semalaman ia tidak bisa tidur. Dan, keesokan harinya,
seusai shalat Subuh, ia bergegas mencegat bis jurusan Surabaya menuju kediaman
Gus Malik.
Banyak perubahan pada diri Gus Malik setelah Sakti menyampaikan
kabar itu. Sakti kembali ke pesantren keesokan harinya dan ia tidak mengetahui
perubahan-perubahan pada diri Gus Malik tersebut. Selama di pesantren, entah
kenapa tidak ada yang mengirimkan kabar kepadanya perihal Gus Malik. Dan, baru
pada Idul Fitri tahun itu, ia kembali pulang dan mendapati bukan Gus Malik yang
menjadi khatib sekaligus imam shalat Id seperti tahun-tahun sebelumnya.
Dari orang tuanya, Sakti mendapat cerita bahwa Gus Malik sudah
tidak pernah lagi pergi ke masjid, tidak pernah mengaji, tidak pernah ikut sima’an atau tadarus Alquran, dan pada
Ramadhan tahun itu itu, tidak sehari pun berpuasa. ”Percuma, toh aku akan tetap masuk neraka,“
jawab Gus Malik bila ada yang bertanya alasan perubahannya. Dan, yang lebih
mengejutkan Sakti adalah Gus Malik telah menjadi pemabuk, ahli judi, dan kerap
berkunjung ke lokalisasi Doli. Istri dan anak-anak Gus Malik yang malu dengan
perubahan Gus Malik pulang ke rumah mertua Gus Malik di daerah Mojokerto.
”Banyak orang yang menyalahkanmu atas perubahan sikap Gus Malik,“
ujar orang tua Sakti. ”Tapi, aku mengatakan hal yang sebenarnya. Dan, karena
aku menyayangi Gus Malik maka aku menyampikan kabar itu agar beliau bisa
menyiapkan dirinya,“ ujar Sakti membela diri.
Gus Malik meninggal tiga tahun setelahnya ketika tengah berkencan
dengan seorang pelacur di Doli. ”Over dosis obat kuat,“ terang polisi yang
melakukan penyelidikan. Dan, sepuluh bulan kemudian, Sakti terkena penyakit
perut yang parah. Ia dilarikan ke rumah sakit oleh kawan-kawannya sesama santri
di pondok pesantren. Tapi upaya penyelamatan itu terlambat. ”Sakitnya sudah
terlampau parah. Kami tak bisa berbuat apa-apa,“ jelas dokter yang menangani
Sakti. Hari itu pula orang tua Sakti bergegas ke Jombang, tak lama usai
mendapat kabar dari kiai di pesantren Sakti. Sepasang orang tua itu menangis
mendapat Sakti yang sudah teramat kurus tubuhnya. Keduanya membacakan
surah Yaasin di telinga Sakti lantas berdoa, ”Gusti, bila anak kami
masih Kau kehendaki hidup maka cepatkanlah kesembuhannya, namun bila tidak,
maka lekaskanlah mau menjemputnya agar ia tak tersiksa.“
Orang tua Sakti tidak tahu dan tidak bisa melihat bahwa ketika
mereka tengah membaca surah ke-36 Alquran itu dan berdoa, sesosok makhluk
bersayap dengan tubuh bercahaya mendatangi Sakti. Sakti ingat, makhluk itulah
yang dulu menemuinya dan mengaku bernama Jibril. Dan kini, makhluk itu berkata,
”Bersujudlah padaku sekali saja dan aku akan menyembuhkan sakitmu,
menyelamatkanmu dari maut.“ Makhluk itu menyeringai. Dan kali ini, Sakti
melihat sepasang taring mencuat. Dan alangkah merahnya mata makhluk itu. []
Dadang Ari
Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto. Sebagian tulisannya pernah terbit di
beberapa surat kabar. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013). Saat ini bekerja penuh waktu
sebagai penulis dan terlibat dalam Kelompok Suka Jalan.
sumber: lakonhidup


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)